Isra Mi’raj Penghapus Duka Cita Sang Rasul

SUARA ARTIKEL – Peristiwa Isra Mir’aj baginda Rasulullah Saw mengandung hikmah luar biasa. Umat Islam setiap tahun merayakan peristiwa tersebut pada tanggal 27 Rajab. Isra Mir’aj membawa perintah langsung dari Allah swt tentang kewajiban shalat lima waktu.

Ibadah shalat wajib merupakan bentuk ketauhidan seorang hamba pada Rabb Sang Pencipta dan bisa jadi pembeda antara orang taat dengan orang yang lalai. Ibadah shalat wajib juga merupakan amalan pertama yang dihisab di yaumil akhir. Bahkan, baik buruknya shalat lima waktu itu menjadi penentu penghisaban amal ibadah lainnya. Bila salat seorang hamba baik, maka amalan lainnya pun bernilai baik. Sebaliknya, bila shalat hamba tersebut buruk, maka buruk pula penghisaban amal ibadah lainnya.

Sungguh menarik jika kita melihat latar belakang sejarah di balik peristiwa agung Isra Miraj. Terutama pada awal sebelum terjadinya Isra Mi’raj. Apa yang dialami Nabi Muhammad Saw sebelum peristiwa itu dan sesudahnya patut menjadi ibrah untuk kita renungi bersama. Isra Miraj diawali dengan tahun duka cita (‘amul huzn) Rasulullah Saw yang terjadi pada tahun kesepuluh kenabian beliau.

Selama Abu Thalib masih hidup, tidak ada satu pun para pemuka kafir Quraisy yang berani menyentuh dan menyakiti Rasulullah Saw. Pengaruh dan ketokohan Abu Thalib sangat besar memberikan perlindungan pada umat Islam, khususnya Rasulullah Saw. Abu Thalib, paman Nabi sebagai pendukung dan pembela dakwah beliau, semakin uzur dan sakit-sakitan. Tapi, kemudian takdir kematian paman yang sangat diandalkan itu pun terjadi.

Dan tragisnya, Abu Thalib wafat dalam keadaan musyrik. Rasulullah Saw gagal membujuk sang paman untuk mengucapkan dua kalimat syahadat disaat sakaratul maut datang. Pengaruh Abu Lahab dan Abu Jahal yang ikut hadir pada saat krusial itu, lebih didengar sang paman dibandingkan permohonan lemah lembut keponakannya. Alhasil, Rasulullah sangat sedih dan menyesali kenyataan.

Mengapa paman yang beliau sayangi dan telah memberikan perlindungan luar biasa bahkan rela menderita bersama Nabi dan orang-orang beriman, namun di akhir hayatnya tetap mengingkari keimanan?

Kegundahan Nabi dijawab oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS Al-Qashash, 28:56)

Berselang tiga hari kemudian, kepedihan lain dialami Nabi dengan wafatnya istri tercinta, Khadijah ra. Pada saat itu, usia Khadijah ra adalah 65 tahun, sedangkan Nabi berusia 50 tahun. Peran Khadijah ra memang sangat luar biasa. Selain memberikan dukungan psikis dan spiritual kepada Nabi, sang istri juga menyumbangkan seluruh harta kekayaannya demi menyokong dakwah Rasulullah Saw. Dana dalam jumlah besar itu sangat dibutuhkan Rasul terutama untuk membebaskan para budak yang tertindas.

Setelah Abu Thalib dan Khadijah ra tiada, maka perlakuan kafir Quraisy semakin brutal dan menjadi-jadi. Selain hinaan dan caci maki, melempari beliau dengan kotoran unta, bahkan melontarkan ancaman pembunuhan. Rasulullah belum pernah merasakan beban kesulitan semacam itu. Upaya pencarian tempat lain yang lebih aman bagi umat Islam dari Mekkah ke kota Thaif justru disambut pengusiran dan lemparan batu penduduk kota itu hingga melukai pelipis Rasulullah Saw.

Kesulitan dan kesedihan yang bertubi-tubi terus menimpa Rasulullah Saw. Dakwah yang dijalankan beliau seakan menemui jalan buntu tanpa ada dukungan dari paman dan istri tercinta. Hati beliau benar-benar diliputi rasa duka cita mendalam sehingga tahun tersebut disebut sebagai tahun Duka Cita. Dalam kondisi berduka cita seperti itu, Allah swt memberikan jalan keluar dengan meng-Isra Mi’raj-kan beliau sebagai bentuk tasliyah (hiburan) dari kesedihan sekaligus momentum diturunkannya perintah salat wajib lima waktu.

Ahli tafsir Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan bahwa Sidratul Muntaha adalah tempat tertinggi dilangit yang menjadi batas ujung pengetahuan dan amal aktifitas para makhluk. Tidak seorang makhluk pun mengetahui apa yang ada di belakangnya. Tempat itu diserupakan dengan As Sidrah yang artinya pohon nabk, karena mereka berkumpul dibawah teteduhannya. Di dekat Sidratul Muntaha ada surga Al Ma’wa yakni tempat tinggal arwah orang-orang mukmin.

Di Sidratul Muntaha inilah Rasulullah Saw mendapatkan wahyu Allah swt berupa perintah shalat wajib lima puluh kali sehari semalam. Ketika turun ke langit keenam, Rasulullah Saw mendapatkan saran dari Nabi Musa as untuk meminta keringanan supaya jumlah shalat yang banyak itu dikurangi karena akan memberatkan umat Islam. Maka, Rasulullah saw kembali ke Sidratul Muntaha lalu memohonkan keringanan tersebut. Allah swt kemudian mengabulkanya menjadi lima kali sehari semalam. Dan, itulah jumlah final yang Rasul terima meskipun Nabi Musa as masih menganggap jumlah itu terlalu banyak. Rasulullah Saw sungkan bila harus bolak-balik menghadap Allah swt.

Selama perjalanan Isra Mi’raj, Rasulullah Saw mengalami hal-hal yang semakin mengokohkan keimanan beliau. Allah swt telah menunjukkan kekuasaan-Nya dan menyadarkan Rasul untuk tidak bergantung pada mahkluk lain selain Allah Ta’ala. Bagaimana kemudian tasliyah yang Allah swt berikan kepada Rasulullah Saw kian memperkuat tauhid dan melejitkan semangat beliau untuk berdakwah menyebarluaskan syiar Islam di muka bumi.

Duka cita sang Nabi menghilang berganti semangat juang di jalan Allah swt dan kita sebagai umat beliau sudah seharusnya menjadikan salat lima waktu sebagai sarana pengisi daya bagi iman kita yang terkadang naik turun tiap hari. Melalui shalat, jiwa seorang hamba bisa terkoneksi langsung dengan Allah swt., dzat pencipta alam semesta. Wa’Allohu A’lam.

Penulis : Ade Sofa, S. Ag., M.S.I
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo

Komentar