Idul Fitri 1441 Hijriah Budaya Baru dan Penuh Dengan Keprihatinan

90

SUARA ARTIKEL – Hari sabtu, 23 Mei 2020 merupakan hari terakhir berpuasa, artinya lebaran sudah diambang pintu. Sebulan berpuasa tidak terasa, entah karena waktu yang memang cepat berputar ditambah dengan keadaan saat pandemi Covid-19 yang melanda secara global. Puasa bulan ini dan hari raya idul fitri 1441 Hijriah menjadi terasa berbeda dibandingkan dengan hari raya idul fitri tahun sebelumnya. Bulan puasa yang penuh cobaan bagi bangsa Indonesia segala sesuatu harus diatur sedemikian rupa tujuan utamanya adalah untuk kebaikan dan kesehatan bangsa.

Sepertinya ada budaya baru dalam merayakan hari kemenangan bagi umat muslim setelah menjalankan ibadah bulan ramadhan. Budaya merupakan pola asumsi dasar yang diciptakan, disepakati dan dijalankan secara konsisten sehingga menjadi pembeda antara organisasi satu dengan organisasi lainnya (Steephen P Robbins). Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada budaya baru yang diciptakan disaat pandemi Covid-19. Apa saja hal-hal baru yang terjadi? Perubahan yang terjadi adalah berkenaan dengan bulan ramadhan dan idul fitri 1441 Hijriah kali ini ada himbauan untuk tidak melakukan sholat berjamaah di masjid atau di mushola, tidak melakukan jabat tangan ketika bersalaman, ibadah dilakukan di rumah perubahan ini dilakukan bukan berarti melarang ibadahnya tetapai yang dilarang berkumpulnya yang akan berpotensi menyebabkan penyebaran dampak virus corona itu sendiri.

Ada protokol yang dirumuskan oleh pemerintah untuk setiap bidang kegiatan, protokol dalam shalat hari raya idul fitri 1441 Hijriah berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor. 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19, ketentuan pertama bahwa pelaksanaan shalat boleh dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, atau tempat lainnya bagi umat islam dikawasan yang sudah terkendali saat 1 Syawal 1441 H, dikawasan yang bebas Covid-19 serta diyakini tidak terdapat penularan. Shalat idul fitri boleh dilakukan dirumah dengan berjamaah dengan anggota keluarga atau secara mandiri (munfarid) selanjutnya pelaksanaan shalat Idul Fitri baik di masjid maupun di rumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Jadi perubahan budaya yang ada dalam suasana Covid-19 ini perubahan tempat pelaksanaannya saja namun bukan merubah rukun dan syarat syahnya shalat. Memang kalau kita bandingkan dengan yang sudah terjadi sebelumnya agak terasa lain tetapi langkah ini diambil untuk memperbesar manfaat daripada mudaratnya. Idul Fitri 1 Syawal ini tidak saling berkunjung ke rumah-rumah tidak saling berjabat tangan, tetap menggunakan masker.

Silaturahmi kali ini banyak dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi, seperti menggunakan media sosial dengan berbagai macam fitur. Meskipun kita tidak berjabat tangan dan bertemu secara langsung melihat situasi saat ini tidak mengurangi makna Idul ftri itu sendiri yang terpenting adalah hati kita. Hati yang tulus di hari baik 1 Syawal akan memberi makna secara mendalam bagi kita, memamg sebaiknya bertatap muka bertemu langsung akan lebih baik tapi sekali lagi saat ini karena keadaan, tidak usa mersa tidak enak, sungkan, segan dan lain sebagainya, kita sama -sama memaklumi dan saling memahami situasi yang sedang terjadi.

Dikalangan masyarakat yang terdengar nanti bagaimana dengan tetangga, bagaimana nanti jika dibilang tidak menghargai orang yang lebih tua dan perasaan malu atau yang lainnya, bukan penulis bermaksud menggurui atau mengajari karena penulis juga merasa tidak ada apa apanya hanya menyampaikan pendapat yang dirangkum dari beberapa informasi yang berkembang di masyarakat. Mari memahami, mengerti kondisi saat ini dan yakinlah di lubuk hati yang paling dalam saudara-saudara kita tidak memiliki prasangka yang bukan bukan.

Idul Fitri 1441 H di tahun 2020 saat ini penuh dengan keprihatinan semoga kita semua bangsa Indonesia selalu di beri kekuatan dan perlindungan oleh Allah SWT, karena dengan kondisi apapun masih tetap menjalankan perintahNya dengan baik. Yakin dan percaya bahwa tidak ada suatu pengorbanan yang sis-sia. Demikian semoga bermanfaat, Aamiin, yaa rabbal alamiin, mohon maaf lahir dan bathin.

Penulis : Tarjo, S.Sos., M.AB
Dosen STIA Muara Bungo

Silahkan Komentar nya Tentang Berita Ini





















>