Warga Sebut Rombongan Rio ke Pulau Jawa Hanya Hamburkan Uang Negara Saja

SUARA BUNGO – Seratusan Datuk Rio dan datin (Kades,red) di Kabupaten Bungo berencana akan melakukan studi turu ke Surabaya. Kepergian seratusan Datuk Rio yang mebawa istri ini menuai pro dan kontra dari masyarakat Bungo.

Banyak yang beranggapan jika kepergian mereka hanyalah untuk pelesiran dan menghabiskan anggaran atau uang negara saja. Sebab pengalaman sebelumnya hanya sedikit sekali dari mereka yang pergi benar-benar menambah ilmu dan wawasan.

Selain itu, kepergian ditengah Covid-19 ini juga mendapatkan kritikan keras dari masyarakat.

“Silahkan pergi, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang kan masih suasana Covid-19,” kata Darliyanto warga Bungo.

Kata Yanto, jika Datuk Rio dan datin ingin menimba ilmu, sebaiknya datangkan orang yang berkompeten tersebut ke Bungo, bukan dengan cara pergi kesana.

“Datangkan saja orang itu kesini. Jangan kita yang kesana. Jika perlu bagi shif sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Misal, dari Batang Bungo butuhnya pariwisata, kita datangkan orang dari daerah wisata. Jadi uang negara lebih hemat dan bisa digunakan untuk pembangunan dusun,” ujar Yanto.

Baca Juga :  Pemkab Bungo Salurkan Bansos di Kecamatan Pelepat

“Mereka sepertinya hanya ingin menghamburkan uang negara dan ingin bersenang-senang saja. Mubazir,” lanjutnya.

Ditengah keuangan daerah yang tengah terseok-seok dihantam pandemi Covid-19, namun seratusan datuk Rio (Kepala Desa,red) dari berbagai dusun di Kabupaten Bungo malah pelesiran ke pulau jawa.

Pelesiran yang dikemas dengan studi banding atau studi tiru tersebut bakal dilakukan dalam waktu dekat ini.

Informasi yang dihimpun, dari 141 Desa dan 12 Kelurahan di kabupaten Bungo, setidaknya lebih dari 100 desa yang sudah menyatakan positif untuk berangkat.

Mereka sudah melakukan iuran untuk keberangkatan nantinya. Iuran tersebut bersumber dari Dana Desa (DD).

Tak tanggung-tanggung, iuran tersebut mencapai belasan juta rupiah perdusun. Iuran tersebut diperuntukkan untuk akomodasi selama disana termasuk ongkos pulang pergi, penginapan dan makan. Dan itu diluar uang saku.

“Informasinya dalam Minggu ini mau berangkatnya,” kata sumber yang dipercaya, Rabu (20/10/2021).

Keberangkatan kali ini sedikit berbeda dengan yang sudah-sudah. Dimana kali ini Datuk Rio membawa isterinya, sementara perangkat dusun lainnya tidak dibawa.

Baca Juga :  Bupati : Ini Sanksi Bagi yang Melanggar Protokol Kesehatan di Kabupaten Bungo

Ketua Forum Rio Kabupaten Bungo, Ziyadi ketika dikonfirmasi membenarkan jika dalam waktu dekat ini ada Rio dan isteri bakal melakukan studi banding ke Pulau Jawa.

“Tujuannya ke Surabaya,” kata Ziyadi.

Dikatakan Ziyadi, tidak semua Rio yang ada di Bungo bakal pergi mengikuti kegiatan ini. Jumlahnya sekitar seratusan Rio.

“Tidak semua PKK yang ikut. Ada yang hanya Rio-nya saja,” kata Ziyadi lagi.

Keberangkatan tersebut bakal menggunakan Dana Desa. Setiap Dusun melakukan iuran sebesar Rp4,5 juta perorang. Jika perginya dua orang atau lebih, maka langsung ditambah Rp4,5 juta saja.

Biaya tersebut akan digunakan untuk akomodasi selama disana nantinya, seperti penginapan, dan sebagainya. Sementara untuk tiket pesawat, itu diluar iuran yang ditetapkan tersebut.

“Iuran Rp4,5 juta itu diluar tiket pesawat,” ungkap Ziyadi yang juga merupakan datuk Rio Tebing Tinggi.

Merujuk dari situs Traveloka, saat ini harga tiket pesawat untuk Jambi tujuan Surabaya terbesar diangka Rp2,2 juta perorang, sementara termurahnya Rp1,2 juta.

Baca Juga :  Fachrori : Santri Harus Mampu Bersaing di Era Teknologi

Sesuai informasi yang disampaikan perangkat dusun, satu dusun menganggarkan hingga puluhan juta. Namun itu tergantung dengan kesepakatan pemerintah dusun setempat.

“Kalau didusun sayo, anggaran untuk berangkat ini Rp30 juta. Itu sudah termasuk biaya tak terduga lainnya,” kata AP perangkat Dusun yang berada di kecamatan Tanah Sepenggal.

Dirinya sangat menyayangkan dengan kepergian para Rio itu, sebab dana yang dianggarkan cukup besar. Selain itu, saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

“Kalau untuk pergi saat ini rasanya kurang etislah. Keuangan daerah kita masih kempang kempis,” katanya lagi.

Menurut mantan perangkat Dusun yang pernah ikut studi banding, kegiatan tersebut hanyalah cerimonial saja. Sedikit sekali perangkat Dusun yang mengikuti kegiatan itu dengan serius.

“Yang jelasnya kesana itu hanya Pelesiran sekaligus jalan-jalan bae. Cuma dikit yang memahami kegiatan itu,” kata mantan perangkat Dusun itu.

“Kebanyakan ya ketempat wisata. Bahkan tidak sedikit yang ketempat hiburan malam, mabuk-mabukan dan main wanita malam,” pungkasnya.(*)