Menggali Makna dan Hakekat Ramadhan

SUARA ARTIKEL – Ramadhan, secara etimologi berasal dari kata ramidha, yar-madhu, Ramadhan yang artinya terik, sangat panas atau terbakar (pembakaran). Adapun menurut terminologi Ramadhan dapat diartikan sebagai pembakaran, peleburan atau penghapusan atas segala macam dosa.

Ramadhan termasuk bulan yang berbeda diantara bulan-bulan Islam lainnya, bulan Ramadhan adalah bulan istimewa bulan penuh berkah dan bulan penuh ampunan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan bulan Ramadhan yaitu; “Rasulullah SAW biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda : “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa tidak memperoleh diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu : Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wazalla setiap hari menghiasi surganya lalu berfirman (kepada surga): “Hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalannya. (HR. Ahmad).
Adapun firman Allah yang mewajibkan untuk berpuasa yaitu dalam surat al-Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Puasa Ramadhan dalam Islam merupakan rukun Islam yang lima yaitu pada posisi keempat setelah zakat, apabila umat Islam tidak menjalankan salah satu rukun Islam tersebut maka keIslaman kita dipertanyakan apakah benar-benar umat Islam atau hanya mengaku Islam tanpa mau mengikuti aturan-aturan dalam Islam, puasa begitu berat mengingat karena dilarang untuk makan dan minum selama kurang lebih 13 jam.

Bagi yang tidak meresapi nilai-nilai keIslaman tentu akan terasa sangat berat dan lebih memilih untuk meninggalkannya tapi bagi orang-orang yang menjiwai nilai-nilai yang terkandung dalam Islam maka itu semua menjadi kewajiban dimana harus dikerjakan dengan hati ikhlas, sabar, dan puasa tersebut tidak menjadikan beban sama sekali.

Mengutip firman Allah diatas, yaitu pada kalimat “Hai orang-orang yang beriman” puasa diperuntukan bagi orang yang beriman bukan orang Islam, karena orang Islam belum tentu beriman karena banyak orang Islam tidak mau mengerjakan segala perintah Allah salah satunya puasa seperti yang sudah akan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tentunya segala perintah Allah akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh terlebih puasa, dimana merupakan salah satu kewajiban umat Islam. Puasa akan begitu merugi apabila hanya sebatas menahan lapar dan dahaga tanpa bernilai pahala, sebagaimana dalam Hadits riwayat Bukhari “Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja”.

Hadist ini menunjukkan bahwa tidak semua orang berpuasa mendapat nilai pahala dari Allah swt. Melainkan orang-orang beriman yang mengetahui nilai-nilai esensi dari puasa, tidak sebatas menahan lapar dan makan namun mengetahui ilmunya dalam berpuasa sehingga puasa itu pun.
Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa dengan berbagai macam manfaat dan faedah yang dalam perjalanannya dapat menyegarkan kembali baik fisik, mental serta spiritual dari pribadi seseorang yang menjalankannya dengan puasa yang sebenar-benarnya tidak hanya puasa lahir akan tetapi puasa batin.

Baca Juga :  Empat Hari Dinyatakan Hilang, Warga Pauh Agung Ditemukan Dengan Selamat Oleh Tim SAR Gabungan

Apabila Manusia mampu menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya puasa serta dengan sikap batin yang tangguh serta kuat dan tulus ikhlas, imanan wahtisaban hanya karena Allah Swt, niscaya mereka akan memperoleh tujuan akhir dari puasa yang mencapai derajat orang yang taqwa.

Tujuan ibadah puasa adalah untuk mencapai derajat takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang imannya senantiasa aktif membentuk dirinya, sehingga dia tetap istiqamah (konsisten) dalam beribadat, berakhlak mulia dan terjauh dari segenap dosa dan maksiat. Banyak orang yang telah berulang kali puasa setiap tahun, bahkan ada yang sudah puluhan kali berpuasa, namun taqwa masih jauh dari kehidupannya, imannya tidak aktif, ibadatnya tidak istikamah, dan akhlaqnya jauh dari mulia, perbuatan dosa masih mengotori dirinya, yang diperoleh dari ibadah puasa hanya lapar dan haus saja.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sebab tidak sedikit manusia menduga bahwa puasa itu hanya sekadar menahan lapar dan haus saja, dan mereka juga memahami bahwa puasa itu adalah pengendalian hawa nafsu selama bulan Ramadan saja, lalu setelah Ramadan mereka kembali dikendalikan oleh hawa nafsunya. Jika hal itu terjadi, maka sangat memperhatinkan. Itu artinya belum memahami hakikat dari berpuasa.

Hakikat Puasa Dua kata yang memiliki makna, untuk dapat mengerti tersebut perlu diketahui definisinya masing-masing. Hakikat, dalam kamus Bahasa Indonesia yaitu; intisari atau dasar, kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya). Adapun puasa yaitu ; menghindari makan, minum dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan), salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Makna puasa dalam bahasa Arab adalah ”Shaum” dan ”Siya”. Shaum berarti untuk menjauhkan diri dari sesuatu, menahan diri untuk mencegah diri dalam bahasa Arab. Dalam istilah fikih, itu berarti untuk menjauhkan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri (jima) antara suami dan istri dari fajar sampai matahari terbenam (maghrib) dengan sadar dan dengan mencari tujuan.

Demikianlah arti dari kedua kata diatas, apakah sudah cukup berhenti sampai disini ? jawabannya tidak, kita harus menyelami, mendalami dan menghayati dengan nurani tentang hakikat puasa tersebut agar apa yang kita ketahui dan kita jalani tidak sia-sia serta mendapatkan nilai ibadah pahala dalam pandangan Allah SWT.

Seorang mukmin sudah semestinya menjalankan puasa yang ia jalankan tidak hanya puasa secara lahir saja akan tetapi juga puasa batin.
Apa yang dimaksud dengan puasa lahir?

Menurut para ahli ilmu fikih, yang dimaksud dengan puasa lahir adalah al-imsak atau menahan diri dari makanan dan minuman dan menahan diri dari melakukan hubungan intim suami-istri yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat hanya karena Allah swt.

Apa yang dimaksud dengan puasa batin?

Menurut para ahli sufi yang dimaksud dengan puasa batin adalah menahan diri dari segala hal dan perbuatan yang dilarang atau diharamkan oleh Allah swt. Tidak cukup hanya menahan dari hal yang diharamkan, namun juga menahan dari segala apapun yang dapat memalingkan diri seseorang dari mengingat Allah Swt.

Baca Juga :  Wako AJB Hadiri Kunker, Silaturahmi dan Penyerahan Bantuan dari Gubernur Jambi

Enam Rukun dalam Puasa Batin
Imam al-Ghazali dalam buku Asrar al-Shaum beliau al-Ghazali menetapkan bahwa dalam puasa batin terdapat enam rukun yang bersifat spiritual dan moral untuk mencapai sasaran puasa yang sebenarnya sehingga puasa yang dijalankan seseorang menjadi puasa yang sah dan diterima oleh Allah swt (al-shihhah, al-maqbul).

Apa saja enam rukun untuk menjalankan puasa batin?

Rukun pertama adalah mensucikan pandangan
Hendaknya dalam menjalankan puasa batin adalah senantiasa menjaga dalam artian mensucikan pandangan dari semua hal atau perkara yang dilarang atau diharamkan oleh Allah swt. Istilah ini disebut dengan shaum al-bashar. Mengapa demikian? Pandangan mata seringkali merupakan titik pertama dari keburukan sehingga memandang sesuatu yang diharamkan adalah berbahaya dan dapat menimbulkan keburukan dan kekotoran dalam hati. Pengendalian mata (ghadhul bashar) dari memandang hal yang diharamkan Allah swt seperti melihat tontonan aurat, tontonan maksiat dan lain lain.

Sebagaimana dalil hadits sabda Nabi Muhammad Saw : “Pandangan itu merupakan salah satu anak panah Iblis”. (HR. Hakim dari Hudzaifah ibn al-Yaman).

Rukun kedua puasa batin, mensucikan perkataan. Shaum al-lisan atau mensucikan perkataan atau lisan dari perbuatan menggosip, berbohong, dusta serta adu domba. Menurut Imam al-Ghazali, orang yang berpuasa hendaknya menjaga dan memelihara, mensucikan lisan atau perkataannya dan lebih baik diam, kemudian banyak berdzikir dan membaca al-Qur’an.

Dalam dalil hadits Nabi saw : “Jangan berkata kotor dan jangan berbuat jahil”. (HR. Bukhari, Muslim).

Rukun ketiga adalah mensucikan pendengaran.
Shaum al-Sami’ atau puasa pendengaran atau mensucikan telinga (pendengaran) dari mendengar perkataan yang buruk, jelek, dusta dan kebohongan. Orang yang mendengarkan perkataan buruk, dusta dan kebohongan adalah bahwa mereka sama buruknya dengan yang mengatakan kebohongan dan dusta. Mengendalikan telinga dari mendengarkan hal- hal yang tidak diredhai Allah seperti mendegar musik hura-hura, mendengar gosip dan lain-lain. Puasa juga mengendalikan kaki dan tangan dari tingkah laku yang tidak diridhai Allah.

Sabda Rasulullah saw berkata, “Siapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji, maka bagi Allah swt tidak ada artinya dia meninggalkan makan dan minumnya (percuma dia berpuasa).” (HR.Buhari dari Abu Hurarah).


Rukun keempat Mensucikan anggota tubuh lain. Dalam puasa batin, selain mensucikan pandangan, lisan, dan pendengaran juga menyucikan anggota badan yang lain. Mensucikan anggota badan yang lain dalam puasa disebut dengan istilah shaum baqiyat al-jawarih). Mensucikan anggota badan yang lain seperti kaki, tangan serta anggota badan yang lain dari perbuatan dan hal-hal yang dilarang untuk dikerjakan serta mensucikan diri dari makan dan minum dari barang-barang yang diharamkan atau dilarang oleh Allah swt.

Rukun kelima menjaga perut yang dimaksud menjaga perut disini adalah dengan mengurangi makan yang terlalu kenyang. Karena dengan makan terlalu kenyang adalah bertentangan dengan salah satu tujuan dari puasa, yaitu melepaskan dan menghindarkan diri dari nafsu syahwat perut.

Rukun keenam cemas namun tetap penuh harapan. Untuk mencapai puasa batin hendaknya seseorang senantiasa cemas namun tetap penuh harapan yang artinya adalah selalu optimis bahwa puasa yang dilakukannya akan diterima oleh Allah swt.
Puasa yang dikerjakan baik puasa sunnah maupun puasa wajib hendaknya tidak hanya puasa secara lahiriyah akan tetapi juga puasa batiniah sehingga tujuan puasa yang hakiki dapat tercapai. Puasa yang benar-benar menjadi penyembuh dan penyegar bagi kebugaran fisik, mental, psikis dan juga spiritual. Dimana tujuan akhirnya adalah agar menjadi hamba yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Hakikat puasa bukan sekadar menahan hawa nafsu dari rasa lapar dan haus. Namun hakikat puasa pengendalian diri secara total dengan kendali iman. Selain mengendalikan mulut dari makan dan minum, puasa juga mengendalikan lidah dari perkataan yang tidak terpuji, seperti bohong, bergunjing, bergosip (gibah), caci maki dan lain lainnya.

Baca Juga :  Rekonsiliasi Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi

Hakekat puasa dalam pandangan Rasyid Ridha adalah sebagai berikut :

1. Tarbiyatal Iradat (Pendidikan Keinginan)
Keinginan atau kemauan merupakan fitrah manusia. Tapi acapkali kemauan atau keinginan yang dimiliki manusia tidak selamanya baik dan tidak pula selamanya buruk. Karena itu puasa dapat mendidik atau membimbing kemauan manusia baik yang positif maupun yang negatif. Dengan puasa, kemauan positif akan terus termotifasi untuk lebih berkembang dan meningkat. Adapun kemauan negatif, puasa akan membimbing dan mengarahkan agar kemauan tersebut tidak terlaksana. Adapun yang menyebabkan kamauan seseorang positif dan negatif, sesuai diungkapkan oleh Imam Al-Gazali bahwa di dalam diri manusia terdapat sifat-sifat sebagai berikut :

a. Sifat Rububiyah (Ketuhanan) yaitu sifat yang mendorong untuk selalu berbuat baik.
b. Sifat Syaithoniyah (Kesetanan), inilah sifat yang mendorong seseorang untuk berbuat kesalahan dan kejahatan.
c. Sifat Bahimiyah (kehewanan), sesuai dengan istilah yang diberikan pada manusia sebagai makhluk biologis.
d. Sifat Subuiyah, yaitu sifat kejam dan kezaliman yang terdapat dalam diri manusia.

2. Thariqat Almalaikat.
Malaikat merupakan makhluk suci, yang selalu taat dan patuh terhadap segala perintah Allah, begitupun orang yang puasa ketaatannya merupakan suatu bukti bahwa jiwanya tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Juga, orang puasa akan mengalami iklim kesucian laksana seorang bayi yang baru lahir, jiwanya terbebas dari setiap dosa dan kesalahan, inilah janji Allah yang akan diberikan untuk orang yang berpuasa dan melaksanakan setiap amalan ibadah pada bulan Ramadhan.

3. Tarbiyatal Ilahiyyat (Pendidikan Ketuhanan)
Puasa merupakan sistem pendidikan Allah SWT dalam rangka mendidik atau membimbing manusia. Sistem pendidikan ini mengandung dua fungsi yaitu :
a. Sebagai sistem yang pasti untuk mendidik manusia supaya menjadi hamba Tuhan yang taat dan patuh.
b. Sebagai suatu sistem yang dapat mendidik sifat Rubbubiyyah (ketuhanan) manusia untuk dapat berbuat adil, sabar, pemaaf dan perbuatan baik lainnya.

4. Tazkiyatan Nafsi (penyucian jiwa). Hakekat puasa yang keempat ini diungkapkan oleh Ibnu Qayim al Jauzi. Puasa dapat menjadi sarana untuk membersihkan berbagai sifat buruk yang terdapat dalam jiwa manusia. Adakalanya jiwa manusia akan kotor bahkan sampai berkarat terbungkus oleh noda dan sikap keburukan yang terdapat didalamnya. Maka wajar kalau puasa dapat menjadi penyuci jiwa.

Maka bulan suci Ramadhan hadir kepada umat Muslim, sudah seharusnya disambut dengan hati yang senang karena: Barang siapa yang senang menyambut bulan suci Ramadhan dijauhkan dirinya dari api neraka. (HR. Muslim, no:233). Tidak hanya itu dengan mengetahui keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan dan puasa, ibadah menjadi lebih bermakna dan berlomba-lomba untuk mendapatkan segala keberkahan yang ada didalamnya.

Demikianlah hakikat puasa yang akan membawa manusia beriman menuju taqwa yang merupakan puncak kemuliaan manusia di hadapan Allah Taála, WaÁllohu Álam.

Penulis : Ade Sofa, S.Ag., M.S.I.
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo