Diduga Pakai Bahan Bekas, Proyek Rehab SMPN 6 Taseplin Disinyalir Banyak Kejanggalan

SUARA BUNGO – Pengerjaan proyek Rehabilitasi tahun 2025 di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN 6) diduga asal jadi dan kuat dugaan pihak sekolah banyak menggunakan material atau bahan lama demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Dalam pengerjaan rehab 3 (Tiga) Ruang Kelas Belajar (RKB) dengan pagu anggaran Rp95.439.666,- untuk masing-masing kelas, para pekerja menggunakan bahan-bahan lama seperti kayu untuk bagian kuda-kuda atau penopang utama berbentuk segitiga, gording yakni penghubung dan penopang kuda-kuda dan usuk atau kasau yang berguna untuk penahan penutup atap.

Meskipun terlihat jelas perbedaan antara material baru dan bekas, namun ketika dikonfirmasi para pekerja enggan mengomentari hal tersebut dan mereka menerangkan persoalan bahan atau material bukan urusan mereka.

Baca Juga :  Satres Narkoba Polres Bungo Amankan 1 KG Sabu dan Seorang Tersangka Perempuan di Solok

“Kami hanya pekerja bang. Soal bahan-bahan atau material itu pihak sekolah yang ngurus,” ujar para pekerja beberapa waktu lalu.

Meskipun para pekerja tidak mau mengungkapkan atau membenarkan banyaknya bahan bekas yang digunakan, namun kepada wartawan mereka mengaku kecewa dengan pihak sekolah yang memberikan upah terbilang kecil dengan beban kerja yang berat.

Ketika ditanya berapa pihak sekolah memberikan upah untuk merehab ruang kelas, pekerja menjawab untuk tiga ruang kelas mereka hanya dibayar Rp18 juta.

“Kecil upahnya bang. Namun karena saya ditawari kawan dan lagi butuh uang, akhirnya saya terima. Sebenarnya upah proyek kayak ini cukup besar bang, tapi gimana lagi,” ujar pekerja kepada wartawan.

Baca Juga :  Bupati Monadi dan Wabup Murison Dampingi Gubernur Jambi Panen Raya Padi dan Ikan Semah di Kerinci

Selain proyek ruang kelas, SMPN 6 Taseplin juga mendapatkan proyek
1 paket Ruang Labor TIK dengan pagu anggaran Rp405.760.653,- dan Pembangunan Toilet atau WC dengan pagu Rp136.730.315,-.

Berdasarkan informasi yang didapatkan bahwa untuk pembangunan Ruang Labor TIK senilai Rp405.760.653 untuk jasa pekerja (tukang) hanya sebesar Rp45 juta. Saat ditanyakan apakah nilai jasa tersebut sudah memenuhi standar, para pekerja juga mengeluh dan menjawab harga uang diberikan pihak sekolah kurang dari standar biasanya.

“Kalau untuk nilai kurang dari harga jasa tukang yang standarnya, tapi kami mau tidak mau terima daripada tidak ada kerja, hanya saja pada saat kami mau pinjam uang dulu atau cash bon itu tidak bisa,” Jelas para pekerja.

Baca Juga :  Tim Hamas-Apri Mulai Rontok, Korcam Milenial Rimbo Tengah Putar Arah Dukung SZ-Erick

Banyaknya kejanggalan dalam proses pengerjaan proyek-proyek di SMPN 6 Taseplin serta adanya keluhan pekerja yang menilai harga upah sudah dimainkan oleh pihak sekolah, proyek Rehab SMPN 6 Taseplin kuat dugaan akan berpotensi adanya permainan dalam penggunaan anggaran APBN tersebut dan diminta Aparat Penegak Hukum (APH) bisa turun mengkroscek agar pelanggaran dan penyalahgunaan dana negara bisa diselamatkan. (tim)