Kisah Pilu, Honorer Damkar Bungo Dipecat Secara Sepihak Oleh Indones Sebagai Plt Kasat Pol PP dan Damkar

874

SUARA BUNGO – Kisah pilu dan menyedihkan yang dialami Alfan, seorang tenaga Honorer Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bungo yang ditugaskan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar Kecamatan Tanah Tumbuh, Kabupaten Bungo.

Surat Pemecatan Alfan, (ist)

Alfan ini sebelumnya bekerja sebagai pegawai non PNS untuk membantu kebutuhan keluarga dan menghidupi ibunya yang menyandang status seorang janda, ia dengan terpaksa harus rela kehilangan pekerjaan. Alfan dituding ikut dalam barisan warga yang melarang H. Mashuri (Hamas), Cabup nomor urut 2 agar tidak masuk ke wilayah Tanah Tumbuh, pada Sabtu (21/11/2020) lalu, sekitar pukul 15.00 Wib.

Alfan diberhentikan secara sepihak oleh Plt. Kepala Sat Pol PP dan Pemadam Kebakaran, Indones. Seyogyanya, sebelum dilakukan pemutusan hubungan kerja terlebih dahulu melayangkan surat peringatan (SP) terlebih dahulu.

Semestinya, hukuman disiplin atau pemberhentian anggota yang diduga melanggar ini, harus melalui pemeriksaan dan BAP guna untuk pembuktian laporan atas dugaan pelanggaran tersebut, dan penetapan klasifikasi hukuman yang akan diberikan kepada Alfan.

Saat ditemui dirumahnya, Selasa (24/11/2020), Alfan menceritakan kronologis kejadian sebenarnya. Dia membantah keras tudingan terhadap dirinya yang telah ikut menghadang rombongan calon Bupati Hamas itu.

“Sayo bukan bagian dari rombongan masa yang sedang berkumpul, saya kebetulan lewat mau ketempat pesta, ditengah jalan saya lihat ada kumpulan orang, rasa penasaran saya berhenti dan melihat. Itupun dari jauh sekitar 50-100 meter,” terangnya.

Namun nasib berkata lain, sekira pukul 22.00 Wib, Alfan malah mendapat telepon dari Kabid Damkar dan Penyelamatan Harpendi, dia meminta Alfan untuk datang menghadap, namun bantahan terkait tudingan terhadap dirinya itu langsung dilakukan lewat telepon.

“Iyo sudah sayo ceritakan semuanya, namun tidak digubris, saya di suruh ke Bungo, namun tidak saya penuhi, selain hari sudah malam, jauh, dan kondisi saat itu juga lagi hujan,” ucapnya penuh kekecewaan.

Alfan mengaku surat pemecatan terhadap dirinya dititipkan kepada Komandan Pos (Danpos) UPT Tanah Tumbuh yang keesokan harinya diminta untuk menghadap sang Kabid.

“Surat itu langsung di titipkan ke Danpos sayo pak, yang isinya memutuskan hubungan kontrak kerja, pertama saya kaget, namun nasi sudah jadi bubur, saya terpaksa menerima keputusan tersebut,” ucapnya lirih.

Alpan berharap, kejadian yang sama tidak terulang lagi dikemudian hari kepada anggota Damkar dan honorer lainnya.

“Pak, jangan kami para tenaga Honorer ini menjadi korban politik yang tempramental, sekali lagi saya tegaskan kami hanya meinginginkan keadilan,” tuturnya.

Diketahui, penghadangan terhadap Hamas oleh puluhan warga Tanah Tumbuh beberapa waktu lalu, lantaran warga meragukan kesehatan Hamas, pasca istrinya dinyatakan positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) dan tengah menjalani perawatan.

Meski hasil Swab Test negatif, warga meminta agar Hamas memberikan contoh yang baik kepada masyarakat agar mematuhi aturan protokol kesehatan. Dimana orang yang sudah kontak fisik dengan pasien wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, merujuk kepada masa inkubasi penularan Covid-19. (TMC)

Silahkan Komentar nya Tentang Berita Ini