SUARA SAROLANGUN – Diketahui sebelumnya pada tanggal 3 Oktober 2019, dibawah kepemimpinan Bupati Sarolangun, Drs. H. Cek Endra, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi di Anugrahi Penghargaan Tata Kelola Pemerintahan Bidang Pelayanan Publik dan Perencanaan Pembangunan, pada Indonesia Awards 2019.
Selanjutnya tepat pada malam puncak peringatan hari sumpah pemuda ke-91 tahun 2019, Senin 28 Oktober, Sarolangun kembali meraih penghargaan kota layak pemuda kategori pratama yang diserahkan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI kepada Bupati, H. Cek Endra.
Sementara itu, lagi-lagi Kabupaten Sarolangun, Jambi kembali menoreh keberhasilan ditingkat Nasional, yakni penghargaan dari Kementrian Kesehatan RI yang ke dua kalinya, dengan predikat Kabupaten/Kota Sehat 2019. Yang diterima lansung oleh Wakil Bupati, Hilallatil Badri dan Kadis Kesehatan Bambang Hermanto.
Bupati Sarolangun, Drs. H. Cek Endra saat di wawancarai awak media, membenarkan hal tersebut, ia mengatakan pada bulan agustus yang lalu, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo menjadi titik penilaian kabupaten/Kota Sehat pada kategori pembinaan atau swasti saba Wiwerda, namun Kabupaten Sarolangun akhirnya keluar sebagai peraih pada penilaian kabupaten/Kota Sehat tersebut.
“Alhamdlillah, Hari ini Sarolangun menerima penghargaan sebagai Kota Sehat, merupakan satu-satunya kabupaten/Kota se-provinsi Jambi yang mendapatkan Anugerah sebagai Kota Sehat oleh menteri kesehatan. Kemarin yang masuk final itu Kabupaten Tebo dan Kabupaten Sarolangun, Alhamdulillah Sarolangun yang lebih lengkap,” kata Bupati Cek Endra (18/11/2019).
Sementara itu lanjutnya, ia juga mengharapkan kedepan agar penghargaan ini terus dapat dipertahankan serta ditingkatkan di masa yang akan datang. Sebab, menurutnya mempertahankan sesuatu itu tentunya lebih sulit dari pada meraihnya.
“Ini merupakan bentuk kerja sama dan perhatian masyarakat kita mengenai kesehatan yang semakin baik. Kedepan mari kita jaga sama-sama, harus mencerminkan kalau kita memang layak kota sehat, tidak ada lagi ternak berkeliaran, termasuk kotoran ternak tidak ada lagi di dalam kota, menjaganya lebih susah dari pada meraih predikat itu,” tutupnya. (Sar)











