Abaikan Himbauan Bupati Terkait Pungli, PLT Kepsek SMPN 1 Pelepat Ilir Ngaku Siap Dipecat

SUARA BUNGO – Himbauan keras yang dikeluarkan Bupati Bungo terhadap dunia Pendidikan untuk tidak melakukan pungutan liar (Pungli), nampaknya sama sekali tidak diindahkan atau tidak diindahkan oleh PLT Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Pelepat Ilir.

Kepada wartawan, beberapa wali murid yang saat ini menyekolahkan anak mereka di SMPN 1 Pelepat Ilir mengaku bahwa anak mereka diminta oleh pihak sekolah untuk membeli baju almamater sekolah dengan harga yang cukup mahal. Almamater yang dijual oleh pihak sekolah menurut para wali murid adalah suatu keharusan yang harus ditaati oleh seluruh pelajar.

Untuk satu almamater, para pelajar harus membayar dengan harga Rp200 ribu. Para wali murid mengaku harga yang ditetapkan oleh pihak sekolah tidak terjangkau dan terlalu mahal.

“Pihak SMPN 1 Pelepat Ilir menjual baju almamater dengan harga mahal. Jujur, kami sangat kecewa dan merasa keberatan dengan pihak sekolah yang seakan-akan mencari keuntungan dari orang tua para pelajar,” ujar beberapa wali murid.

Ketika ditanya, apakah ada paksaan tertulis dari pihak sekolah yang mengharuskan semua pelajar membeli baju Almamater? beberapa wali murid menjawab intruksi secara tertulis tidak ada, namun karena adanya desakan dari anak mereka yang menyebutkan bahwa teman-temannya banyak yang membeli, maka dengan terpaksa ikut membeli almamater tersebut.

Baca Juga :  Dinas PMD Kabupaten Bungo Sukses Gelar Sosialisasi Pilrio Serentak Tahun 2022

“Selain takut berdampak dengan nilai sekolah, karena teman-teman anak saya sudah ada yang beli dan malu tidak membeli, maka dengan berat hati terpaksa ikut membeli,” ujar mereka.

Adanya jual beli baju almamater yang dengan harga mahal dan diduga kuat pihak sekolah mencari keuntungan, para wali murid meminta Bupati Bungo atau dinas terkait untuk turun tangan membantu para wali murid yang mengaku diperalat atau dimanfaatkan oleh pihak sekolah demi mencari keuntungan.

“Kami mohon kepada pak Bupati Bungo jangan biarkan kesewenangan dan pungli merajarela didunia pendidikan, salah satunya di SMPN 1 Pelepat Ilir. Pihak sekolah menjual almamater Dangan harga mahal dan para pelajar terkesan dipaksa untuk membeli,” harap para wali murid.

Baca Juga :  Bawa Perubahan, Guru SMPN 1 Sungai Penuh Menyayangkan Rotasi Kepsek

Aksi pungutan liar yang dilakukan oleh pihak SMPN 1 Pelepat Ilir ternyata tidak hanya dilakukan dengan kedok menjual baju almamater sekolah. Selama ini beberapa aksi pungli ternyata sudah dilakukan pihak sekolah, diantaranya dengan mewajibkan para pelajar untuk iuran jika ada guru yang pindah.

Pungutan untuk kegiatan perpisahan guru diakui beberapa pelajar SMPN 1 Bungo kepada awak media. Menurut pengakuan para pelajar, iuran ditetapkan dari Rp5.000 sampai Rp10.000.

“Beberapa bulan lalu ada iuran karena ada guru yang pindah. Untuk membayar iuran, banyak diantara kami yang terpaksa menyisihkan uang jajan untuk bayar iuran,” ujar beberapa pelajar SMPN 1 Bungo.

Disisi lain, Kepsek SMPN 1 Pelepat Ilir ketika dikonfirmasi salah satu awak media terkait dugaan pungli yang dilakukan dengan berbagai cara, PLT Kepsek SMPN 1 Pelepat Ilir, Nur Afni Isnaini tidak membantah dan membenarkan bahwa disekolahnya memang ada menjual baju almamater sekolah dan iuran perpisahan guru.

Terkait penjualan baju almamater, PLT Kepsek SMPN 1 Bungo, Nur Afni Isnaini mengaku pihaknya tidak melakukan kegiatan pungli dan tidak mencari keuntungan. Malahan dirinya dengan tegas mengaku siap dipecat jika jual beli almamater yang ada disekolahnya itu termasuk pungli.

Baca Juga :  Pemprov Jambi Bekali 217 Calon ASN Dengan Diklat Dasar

“Kami menjual Rp200 ribu per pelajar. Jika dari pihak media ingin buat pemberitaan, silahkan, saya tidak keberatan, walaupun saya di pecat pun tidak jadi masalah,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk kegiatan perpisahan guru, PLT Kepsek SMPN 1 Pelepat Ilir mengatakan, bahwa para pelajar diminta dalam bentuk sumbangan dan tidak ada paksaan. Dia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak ada mematok atau menentukan besaran sumbangan meskipun para pelajar banyak yang menyebutkan bahwa untuk perpisahan guru paling sedikit diminta membayar Rp5.000.

“Bukan iuran, namun sumbangan. Jika ada sisa, uang sumbangan itu kami simpan untuk perpisahan guru di tahun depan,” terangnya.

“Disekolah kami masih ada kegiatan perpisahan guru selanjutnya karena ada yang lulus P3K,” ujarnya pula. (Oni)