DEPRESI DAN PROBLEMATIKANYA

SUARA ARTIKEL – Sungguh miris karena akhir-akhir ini kita menemukan banyaknya kejadian bunuh diri yang diberitakan oleh media masa maupun yang terjadi dilingkungan kita sendiri. Adanya keinginan untuk bunuh diri merupakan salah satu gejala dari depresi berat berdasarkan Pedoman Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ). Depresi bukan saja dialami oleh orang dewasa tetapi anak-anak juga bisa mengalami depresi yang tidak mengenal kelas sosial.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi depresi dan terpuruk. Sebanyak 40% penderita depresi mempunyai ide untuk bunuh diri, dan hanya lebih kurang 15% saja yang sukses melakukannya. WHO memprediksikan bahwa pada tahun 2020, depresi akan menjadi salah satu gangguan mental yang banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung. Berdasarkan data WHO tahun 1980, hamper 20% – 30% dari pasien rumah sakit di Negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi.
Depresi merupakan gangguan emosional atau suasana hati yang buruk yang ditandai dengan kesedihan yang berkepanjangan, putus harapan, perasaan bersalah dan tidak berarti. Sehingga seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) tersebut dapat mempengaruhi motivasi untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari maupun pada hubungan interpersonal.

Depresi dan stress yang dibiarkan berlarut membebani pikiran, dapat mengganggu system kekebalan tubuh. Apabila kita berada dalam emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, putus asa, iri, kecemasan, dan kurang bersyukur maka sistem kekebalan kita menjadi lemah.

Penelitian di amerika, 28 dari 32 orang pasien telah mengalami stres dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Stres mental ini mengakibatkan system kekebalan tubuh menjadi tidak normal. Para doketr di John Hopkin Medical School menemukan bahwa orang – orang yang emosional dan pemurung cenderung menderita penyakit yang serius seperti kanker, tekanan darah tinggi, jantung dan berumur pendek. Depresi disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor.

Jika seseorang di dalam riwayat kesehatannya memiliki keluarga yang mengalami depresi, maka terdapat kecenderungan untuk mengalami depresi juga. Menurut Kaplan (2002) dan Nolen – Hoeksema & Girgus (dalam Krenke & Stremmler, 2002), faktor – faktor yang dihubungkan dengan penyebab dapat dibagi atas : faktor biologi, faktor psikologis/kepribadian dan faktor sosial. Dimana ketiga faktor tersebut dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. APA (Association Psychologist American) (dalam Aditomo & Retnowati, 2004) mendefinisikan depresi sebagai gangguan yang terutama ditandai oleh kondisi emosi sedih dan muram serta terkait dengan gejala-gejala kognitif, fisik, dan interpersonal. Davison, dkk, (2005), menyatakan bahwa depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, kehilangan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan.

Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah (menarik diri, tidak dapat tidur, kehilangan selera, minat dalam aktivitas sehari-hari), dalam Gerald C. Davison 2004. Menurut Rice PL (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

Baca Juga :  Wabup Apri Laporkan LKPJ Bupati Bungo Tahun 2018 Kepada DPRD Bungo

1. Gejala depresi
Dalam DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fourth edition Text Revision) dituliskan kriteria depresi mayor yang ditetapkan apabila sedikitnya 5 dari gejala di bawah ini telah ditemukan dalam jangka waktu 2 minggu yang sama dan merupakan satu perubahan pola fungsi dari sebelumnya, paling tidak satu gejalanya ialah salah satu dari mood tertekan atau hilangnya minat atau kesenangan (tidak termasuk gejala-gejala yang jelas yang disebabkan kondisi medis umum, atau mood delusi atau halusinasi yang tidak kongruen).

Gejala dan tanda umum depresi adalah sebagai berikut :
a. Gejala Fisik
1. Gangguan pola tidur; Sulit tidur (insomnia) atau tidur berlebihan (hipersomnia).
2. Menurunnya tingkat aktivitas, misalnya kehilangan minat, kesenangan atas hobi atau aktivitas yang sebelumnya disukai.
3. Sulit makan atau makan berlebihan (bisa menjadi kurus atau kegemukan).
4. Gejala penyakit fisik yang tidak hilang seperti sakit kepala, masalah pencernaan. (diare, sulit BAB dll), sakit lambung dan nyeri kronis.
5. Terkadang merasa berat di tangan dan kaki
6. Energi lemah, kelelahan, menjadi lamban
7. Sulit berkonsentrasi, mengingat, memutuskan

b. Gejala Psikis
1. Rasa sedih, cemas, atau hampa yang terus – menerus.
2. Rasa putus asa dan pesimis
3. Rasa bersalah, tidak berharga, rasa terbebani dan tidak berdaya/tidak berguna
4. Tidak tenang dan gampang tersinggung
5. Berpikir ingin mati atau bunuh diri
6. Sensitive
7. Kehilangan rasa percaya diri
c. Gejala Sosial
1. Menurunnya aktivitas dan minat sehari-hari (menarik diri, menyendiri, malas)
2. Tidak ada motivasi untuk melakukan apapun
3. Hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan untuk bunuh diri
Penyebab Depresi
a. Faktor Biologi
Beberapa peneliti menemukan bahwa gangguan mood melibatkan patologik dan system limbiks serta ganglia basalis dan hypothalamus. Dalam penelitian biopsikologi, norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotrasmiter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Pada wanita, perubahan hormon dihubungkan dengan kelahiran anak dan menoupose juga dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi. Penyakit fisik yang berkepanjangan sehingga menyebabkan stress dan juga dapat menyebabkan depresi.

b. Faktor Psikologis/Kepribadian
Individu yang dependent, memiliki harga diri yang rendah, tidak asertif, dan menggunakan ruminative coping. Nolen – Hoeksema & Girgus juga mengatakan bahwa ketika seseorang merasa tertekan akan cenderung fokus pada tekanan yang mereka rasa dan secara pasif merenung dari pada mengalihkannya atau melakukan aktivitas untuk merubah situasi. Pemikiran irasional yaitu pemikiran yang salah dalam berpikir seperti menyalahkan diri sendiri atas ketidak beruntungan. Sehingga individu yang mengalami depresi cenderung menganggap bahwa dirinya tidak dapat mengendalikan lingkungan dan kondisi dirinya. Hal ini dapat menyebabkan pesimisme dan apatis.

Baca Juga :  Wako AJB Sampaikan Rancangan KUA PPAS 2020 ke Dewan

c. Faktor Sosial
1. Kejadian tragis seperti kehilangan seseorang atau kehilangan dan kegagalan pekerjaan
2. Paska bencana
3. Melahirkan
4. Masalah keuangan
5. Ketergantungan terhadap narkoba atau alkhohol
6. Trauma masa kecil
7. Terisolasi secara sosial
8. faktor usia dan gender
9. Tuntutan dan peran sosial misalnya untuk tampil baik, menjadi juara di sekolah ataupun tempat kerja.
10. Maupun dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya.
d. Risiko yang Ditimbulkan Akibat Depresi :

1. Bunuh Diri.
Orang yang menderita depresi memiliki perasaan kesepian, ketidakberdayaan dan putus asa. Sehingga mereka mempertimbangkan membunuh dirinya sendiri.
2. Gangguan Tidur.
Insomnia ataupun hypersomnia, Gangguan tidur dan depresi biasanya cenderung muncul bersamaan. Setidaknya 80% dari orang yang menderita depresi mengalami insomnia atau kesulitan untuk tidur. 15 % mengalami depresi dengan tidur yang berlebihan. Kesulitan tidur dianggap sebagai gejala gangguan mood.
3. Gangguan Interpersonal.
Individu yang mengalami depresi cenderung mudah tersinggung, sedih yang berkepanjangan sehingga cenderung menarik diri dan menjauhkan diri dari orang lain. Terkadang menyalahkan orang lain. Hal inimenyebabkan hubungan dengan orang lain maupunlingkungan sekitar menjadi tidak baik.
4. Gangguan dalam pekerjaan.
Depresi meningkatkan kemungkinan dipecat atau penderita sendiri yang mengundurkan diri dari pekerjaan ataupun sekolah. Orang yang menderita depresi cenderung memiliki motivasi yang menurun untuk melakukan aktivitas ataupun minat pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Gangguan pola makan.
Depresi dapat menyebabkan gangguan pola makan atau sebaliknya gangguan pola makan juga dapat menyebabkan depresi. Pada penderita depresi terdapat dua kecenderungan umum menegenai pola makan yang secara nyata mempengaruhi berat tubuh yaitu :

a. Tidak selera makan.
b. Keinginan makan-makanan yang manis bertambah
6. Perilaku-perilaku merusak.
Beberapa orang yang menderita depresi memiliki perilaku yang merusak seperti, agresivitas dan kekerasan, menggunakan obat-obatan terlarang dan alkhohol, serta perilaku merokok yang berlebihan.

Depresi pada dasarnya dapat terjadi oleh siapa saja, baik anak-anak hingga lansia. Dengan banyak factor penyebabnya, bisa salah satu factor maupun beberapa factor yang terjadi pada orang yang mengalami depresi. Maka dari itu peningkatan jumlah penderita depresi dapat diamati bertambah dari waktu ke waktu melalui peningkatan jumlah kunjungan pasien yang berobat ke pelayanan kesehatan maupun peningkatan obat psikofarmaka yang diresepkan oleh dokter (Hawari, 2013). Depresi adalah kata yang memiliki banyak nuansa arti. Sebagian besar diantara kita pernah merasa sedih atau jengkel, menjalani kehidupan yang penuh masalah, merasa kecewa, kehilangan dan frustasi, yang dengan mudah menimbulkan ketidakbahagiaan dan keputusasaan.

Apabila seseorang berada dalam emosi yang negative seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kecemasan, dan kurang bersyukur dengan nikmat yang ada, maka system kekebalan kita menjadi lemah. Belakangan, hubungan antara perasaan negative dan terjadinya serangan penyakit telah berkali-kali dibuktikan. Dalam suatu penelitian di Amerika, 28 dari 32 orang pasien, telah mengalami stres dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Stres mental ini mengakibatkan system kekebalan tubuh menjadi tidak normal.
Para dokter di John Hopkin Medical School menemukan bahwa orang- orang yang emosional dan pemurung cenderung menderita penyakit yang serius seperti kanker, tekanan darah tinggi, jantung, dan berumur pendek. Dan kini, umumnya para spesialis jantung mengakui bahwa orang dengan kepribadian “tipe A”. individu yang tidak mau kalah, tidak sabar, terburu-buru, dan mudah jengkel lebih berpeluang terhadap penyakit dan serangan jantung.

Baca Juga :  Ustadz H. Andre Terpilih Aklamasi Dalam Musda ke V BKPRMI

Terdapat berbagai metode terapi yang dapat dilakukan bagi remaja yang mengalami depresi. Tenaga kesehatan akan mempertimbangkan metode yang tepat bagi masing-masing individu. Diantaranya dengan menggunakan cognitive behavioral therapy, psychodinamic psychotherapy, interpersonal psychoterapy, terapi supportif ataupun menggunakan obat-obatan.

Beberapa cara mencegah depresi agar tidak terjadi atau tidak datang kembali adalah, dengan bersikap realistis terhadap apa yang kita harapkan dan apa yang bisa kita lakukan sehigga tidak menyalahkan diri sendiri atau orang lain saat kita melakukan suatu kesalahan atau mengalami kegagalan, menerima kegagalan sebagai sebuah proses pembelajaran hidup untuk menjadi orang yang lebih baik, dan tidak memaksakan diri diluar kemampuan diri. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain ataupun kehidupan orang lain, karena setiap orang itu memiliki kehidupan yang berbeda-beda yang tidak bisa disamakan.

Tidak terlalu menyesali suatu kejadian, bersikap tenang dan tidak mudah marah. Mampu mengambil keputusan dari suatu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan membuat diri kita menjadi lebih stabil, kuat dan menjadikan diri lebih bijak untuk bersikap. Mencari bantuan jika dibutuhkan dengan teman, professional (psikolog, konselor atau psikiater) atau orang yang kita sayangi atau kita anggap mampu membantu. Tidak menyendiri, menjauhi diri dari pergaulan, lebih bersosialisasi secara positif, bergaya hidup sehat serta melakukan aktivitas dengan lingkungan sekitar. Rutinlah olah raga, makan makanann yang sehat, tidak bergadang dan selalu berfikiran positif untuk membuang emosi negatif yang dapat meracuni fikiran yang mempengaruhi perasaan dan perilaku kita. Membangun harga diri sehingga kita akan lebih menghargai diri sendiri, mendekatkan diri kepada tuhan dan menikmati hidup untuk selalu bersyukur atas hidup yang telah berikan.

Depresi dapat terjadi pada siapa saja dengan berbagai faktor penyebabnya. Depresi adalah gangguan emosional atau suasana hati yang buruk yang ditandai dengan kesedihan yang berkepanjangan, putus harapan, perasaan bersalah dan tidak berarti. Sehingga seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa dan raga seseorang. Depresi dapat dicegah maupun diobati melalu berbagi metode yang tepat. Selain itu factor kesembuhan juga dipengaruhi oleh motivasi orang itu sendiri dan dukungan dari orang lain.

Penulis : Fina Afriany, S.Psi, M.Psi., Psikolog
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo