Siapa Bilang Dusun Tidak Millenial ?

767

SUARA TEBO – Saya Sony berkesempatan untuk mewawancarai Rudi Hutama Hamid. Dia adalah orang dibalik sosok Metih Satirah, seorang yang baru-baru ini viral dan kemunculannya mengundang pro dan kontra seantero Jambi. Ada yang mengatakan karakter Metih Satirah adalah pemerkosaan terhadap karakter kaum perempuan dan ibu-ibu, ditambah lagi Rudi dewasa telah memiliki istri dan anak, namun tidak sedikit orang yang mendukungnya dengan berbagai alasan mulai dari lucu, menghibur, kritik yang mendidik, bahkan ada yang mengatakan bahwa sosok ini menjadi semangat baru penggunaan bahasa daerah di kaum milenial.

Berikut adalah obrolan penulis dengan sosok alumni S2 Universitas Batanghari ini :

1. Apa alasanmu membuat konten seperti ini ?

Rudi : Alasan saya membuat konten ini adalah :
A. Saya prihatin dengan anak muda yang banyak tidak mengerti dengan bahasa daerah kita, padahal bahasa menurut saya adalah suatu identitas,karena bahasa orang lain akan tahu dari daerah mana kita berasal.
B. Saya mengangkat issue sosial yang banyak terjadi ditengah masyarakat kita, dikemas dengan sosok Metih Satirah, masyarakat tidak merasa digurui sehingga pelan-pelan sosok tersebut memberi makna dan nilai sosial serta mengabadikan bahasa daerah yang mulai memudar.

2. Melihat alasan itu apa sih hal yang paling sulit yang harus dilakukan dalam membuat konten tersebut ?

Rudi : Hal yang paling sulit yang saya rasakan dengan konten tersebut adalah saya harus benar-benar keluar dari karakter diri saya yang sebenarnya.

3. Metih Satirah selalu menggunakan bahasa dusun yang tidak sedikit bahasa tersebut sudah sangat tua , Apa maksud dibalik itu semua ?

Rudi : Seperti yang tadi saya sampaikan, bahwa saya ingin bahasa yang merupakan identitas tersebut kembali kemasa kejayaannya, dan anak muda bangga menggunakan.

4. Bagaimana tanggapan keluarga dengan konten yang cukup pro kontra tersebut ?

Rudi : Awalnya mereka tidak setuju, tapi Alhamdulilah setelah saya jelaskan maksud dari apa yang saya lakukan, dan juga dukungan masyarakat yang luar biasa membuat mereka mengerti dan mendukung apa yang saya lakukan.

5. Nggak takut anak jadi trauma melihat ayahnya dandan perempuan ?

Rudi : Tentunya tidak, karena kami (saya dan istri) perlahan memberikan pemahaman kepadanya, dan dia mengerti dan bisa membedakan mana yang papanya dan mana yang metih satirah.

6. Apakah ada peran istri dalam video-video anda ?

Rudi : Alhamdulilah, Allah berikan istri yang luar biasa, yang selalu mendukung saya dalam segala hal, bahkan ada beberapa video istri yang ikut membantu merekam bahkan memerankan tokoh dalam video tersebut.

7. Sudah terkenal , banyak yang suka , banyak endorse dong ? heheheh

Rudi : Alhamdulilah….setiap yang kita lakukan dengan ikhlas,inshaallah rezeki pasti akan ikut serta.

8. Menghadapi banyak orang baik itu haters maupun fans yang ada di media sosial, instagram @metih.satirah , Bagaimana sih kiat-kiatnya?

Rudi : Saya menyadari betul sebanyak orang benci dan lebih banyak orang yang suka, tergantung cara kita menanggapinya,saya selalu menanggapi semua hal dengan positif,dimana pujian saya anggap semangat dan cacian saya anggap motivasi untuk selalu melakukan yang terbaik.

9. Apa yang paling frontal yang dilakukan haters kepada anda ?

Rudi : Ada haters yang tidak bisa membedakan mana yang Rudi dan mana yang metih satirah, sehingga mereka mencampur adukkan hal yang pribadi rudi dengan metih satirah, misalnya cowok kok berprilaku seperti cewek, atau kasian istri nya melihat seorang rudi yang seperti itu.

10. Dengan cara ini apakah anda yakin bahwa anak-anak dusun tetap bisa menjadi milenial namun tidak merubah jati dirinya ?

Rudi : Saya sangat yakin, karena saya sering menerima inbok atau pun DM yang menayakan kosa kata yang mereka tidak faham, dan mereka mulai menggunakan bahasa traditional tersebut._

11. Apa pesan-pesan anda untuk seluruh masyarakat yang hidup di zaman milenial saat ini ?

Rudi : Istilah yang saya kutip dari seorang yang luar biasa, Bapak Bahren Nurdin,Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi,bahwa kita ibarat pohon, dimana daun dan ranting pohon bisa kemana saja,namun akar jangan sampai dicabut, artinya bagaimana dan dimanapun kita, jangan pernah lupa akan asal usul dan daerah kita.

Itulah seluruh hasil wawancara penulis dengan sosok Metih Satirah dan kita dapat menyimpulkan bahwa hal apapun yang kita lakukan jika kita ikhlas dan berdampak baik kepada masyarakat dan masyarakat terhibur sepertinya tidak ada salahnya bukan ?

Penulis : Sony

Silahkan Komentar nya Tentang Berita Ini