Pengabdian Masyarakat: Pencegahan Gerakan Radikalisme melalui Penanaman Ideologi Pancasila

SUARA ARTIKEL – Perguruan Tinggi (PTN/PTS) memiliki fungsi dan peran yang sangat penting bagi masyarakat yaitu sebagai sentra pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal inilah yang membuat negara Indonesia sangat mengharapkan Perguruan Tinggi untuk dapat melahirkan generasi-generasi yang terampil dan mandiri yang dapat berkontribusi nyata bagi negara. Oleh karena itu, perguruan tinggi merupakan lembaga yang sangat strategis dalam mendorong percepatan pembangunan masyarakat, dengan sejumlah keunggulan yang dimilikinya seperti SDM, perangkat pemberdayaan yang mapan, serta kemampuan membuat riset dan kajian, maka Perguruan Tinggi seyogyanya harus berperan sebagai agen pembangunan (agent of development).

Sebagai agen pembangunan (agent of development) dalam pengembangan SDM, Perguruan Tinggi melaksanakannya dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian Ilmiah serta Pengabdian Kepada Masyarakat, tiga dharma tersebut harus dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Pengabdian Masyarakat merupakan suatu kegiatan yang bertujuan membantu masyarakat tertentu dalam serangkaian aktivitas tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang merupakan bentuk kontribusi yang bersifat kongrit dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Untuk mewujudkan hal tersebut maka saya Nanang Al Hidayat, S.H., M.H. selaku salah satu dosen di STIA Setih Setio Muara Bungo, bersama rekan dosen lainnya Asra’i Maros, S. Sos., M.Si dan Joko Sunaryo, S. Sos., M.A. melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 10 Tebo, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, dalam bentuk kegiatan Pencegahan Gerakan Radikalisme melalui Penanaman Ideologi Pancasila yang mana puncak kegiatan dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2019.

Baca Juga :  Pj Bupati Asraf Hadiri Kenduri Sko Desa Air Bersih dan Dianugerahi Gelar Adat

Kegiatan ini turut melibatkan tiga orang mahasiswa STIA Setih Setio Muara Bungo. Salah satu tantangan besar yang dihadapi bangsa saat ini adalah ideologi dan paham radikal yang menjadi ancaman bagi kedaulatan negara. Radikalisme memang tidak mengakar sebagai karakter bangsa, tetapi ia terus menyebar ke berbagai aspek kehidupan bangsa. Dalam konteks inilah, darurat radikalisme mesti juga diperhatikan sebagai ancaman bagi kedaulatan negara dan keamanan masyarakat. Seluruh warga negara mempunyai kewajiban untuk melakukan bela negara sesuai dengan profesi masing-masing dalam menangkal radikalisme. Bela negara itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Kelompok masyarakat yang dipilih adalah siswa/siswi SMA Negeri 10 Tebo. Kabupaten Tebo, sekolah ini dipilih karena alasan, yaitu siswa/siswinya tersebut memiliki latar belakang yang sangat heterogen dan sekolah juga lokasinya di wilayah pasar sehingga masuknya gerakan radikalisme bisa lebih cepat. Tujuan program ini adalah menjadikan Siswa/siswi sebagai model pencegahan gerakan radikalisme melalui penanaman ideologi Pancasila sejak dini. Dalam arti, pemberdayaan masyarakat (partisipasi aktif) sebagai inti gerakannya, dengan menempatkan mitra sebagai pelaku utama pada setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring -evaluasi program. Pendekatan pemberdayaan (partisipasi aktif) dalam pengabdian ini berprinsip pada kemandirian masyarakat, metode ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan menguatkan ideologi Pancasila, sehingga pemuda (siswa/siswi) dapat mendeteksi –mencegah dan menanggulangi adanya gerakan-gerakan radikalisme secara dini di kalangan masyarakat.

Baca Juga :  Jejak Langkah Seorang Pelukis Sejarah

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dimana masyarakat mampu meningkatkan pemahamannya secara mandiri. Dalam proses ini, lembaga berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pemberdayaan masyarakat, yang pada prinsipnya masyarakatlah yang menjadi aktor dan penentu pencegahan gerakan radikalisme melalui penanaman ideologi Pancasila. Usulan-usulan masyarakat merupakan dasar bagi program. Aspek penting dalam suatu program perberdayaan masyarakat adalah: program dan strategi yang disusun sendiri oleh masyarakat.

Melalui kegiatan ini diharapkan pada akhirnya dapat menghasilkan generasi muda yang tidak saja mengerti hak dan kewajiban ideologis -konstitusionalnya, tetapi juga sanggup memperjuangkan hak-hak konstitusional tersebut, sanggup bela negara, bahkan memberikan teladan bagi masyarakat di lingkungannya sehingga tercipta masyarakat yang dapat berkontribusi nyata bagi kemajuan negara.

Beberapa metode yang digunakan dalam pengabdian ini: Pelatihan. Metode pelatihan dilakukan untuk memberikan solusi terhadap persoalan: (1) kekurang pahaman terhadap ideologi Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat; (2) kekurangan pemahaman gerakan-gerakan radikalisme yang tumbuh di masyarakat; (3) kekurang pahaman cara dan strategi mendeteksi (menemukan atau melacak) sejak dini adanya gerakan-gerakan radikalisme ditengah masyarakat; (4) ketidakmampuan mencegah munculnya gerakan radikalisme melalui penanaman Pancasila dan budaya sadar konstitusi yang tumbuh di masyarakat.

Baca Juga :  Melalui Kukerta, Mahasiswa UMB Posko 7 Mempelajari Kearifan Lokal di Dusun Pemunyian dan Renah Sungai Besar

Program-program pelatihan dalam pengabdian masyarakat dikembangkan dengan metode yang lebih sederhana, yaitu dengan menyelenggarakan diskusi santai/informal sehingga peserta tidak terlalu berat dalam menerima materi-materi pelatihan. Materi-materi pelatihan yang disampaikan mengambil beberapa kasus pencegahan radikalisme di Indonesia, sehingga peserta pelatihan akan memperoleh gambaran-gambaran kasus dan strategi yang seharusnya dilakukan. Selain itu, juga sharing pengalaman merupakan syarat untuk dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi masyarakat dan menjadi penentu pelaksanaan kegiatan dalam menciptakan masyarakat yang mandiri. Metode pelatihan dengan diskusi informal bertujuan untuk mendorong partisipasi dan perhatian peserta yang lebih intens.

Melalui program pengabdian ini diharapkan mitra program yaitu siswa/siswi SMA Negeri 10 Tebo. Kabupaten Tebo memiliki kemampuan dalam deteksi dini adanya gerakan radikalisme dan mampu lakukan langkah pencegahan agar radikalisme tidak berkembang di lingkungannya.

Penulis: Nanang Al Hidayat, S.H., M.H., Asra’i Maros, S. Sos., M.Si., Joko Sunaryo, S.Sos., M.A.
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo