Konsumsi Air Sungai Pelepat, Masyarakat Rantel Mulai Diserang Penyakit Gatal-Gatal

SUARA BUNGO – Dampak buruk akibat aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Batu Kerbau kecamatan Pelepat, kabupaten Bungo kini tengah dirasakan oleh masyarakat dusun Rantel, yang berada di hilir aliran sungai Batang Pelepat yang mengaliri air bekas tambang illegal tersebut.

Warga Rantel kini banyak mengidap penyakit gatal-gatal pada kulit, yang diduga kuat dampak dari penggunaan air sungai Batang Pelepat yang keruh.

“Kami dak sanggup lagi gunokan (menggunakan) ayik (air) Batang Pelepat ko (ini) pak. Lah keruh nian. Kini lah sampai luar dalam keno (terkena) gatal-gatal pak,” ungkap nenek Siti Maryam, Selasa (24/08/2021).

Baca Juga :  Sambut Idul Fitri, Gubernur Al Haris Kunjungi Nakes dan Pasien di RSUD Raden Mattaher

Lanjut nenek Siti Maryam, kondisi air sungai Batang Pelepat akibat adanya tambang illegal di hulu sungai tersebut sulit digunakan untuk keperluan apapun dalam keseharian masyarakat setempat.

“Padahal ayik sungai ko lah sumber kehidupan kami sejak puluhan tahun pak. Tapi kondisinyo kini jangankan untuk minum, dibuat mandi samo (sama) nyuci (mencuci) saja sudah dak layak lagi pak. Tulunglah (tolonglah) kami pak, cepat usir PETI tu pak,” rintih nenek Siti Maryam.

Terpisah, Rio (kepala desa) Rantel, H. Badrul Aini membenarkan jika kini banyak warganya yang diserang penyakit gatal-gala. Kondisi air sungai yang sangat keruh dinilainya menjadi penyebab timbulnya penyakit gatal-gatal tersebut.

Baca Juga :  Mahasiswa KKNT UMB Gelar Sosialisasi Tentang Pencegahan Narkoba dan Edukasi Kesehatan Dan Hukum

“Memang itulah keluhan masyarakat yang banyak sampai ke saya. Makanya masyarakat marah dan sudah mau berangkat ke lokasi PETI itu untuk berdemo,” ujar H. Badrul Aini.

Dipaparkan datuk Rio, dari dua Kampung di dusun Rantel, yakni Kampung Rantau Asam dan Lubuk Telau, mayoritas masyarakat memang menggantungkan air sungai Batang Pelepat untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari.

“Sekitar 60 sampai 70 persen masyarakat kami memang menggunakan air sungai Batang Pelepat untuk hajad hidupnya sehari-hari. Inilah makanya mayoritas masyarakat sangat marah dengan aktivitas PETI di wilayah Batu Kerbau itu,” beber datuk Rio.

Baca Juga :  Bupati Merangin dan Forkopimda Ikuti Sosialiasi Perpres 87

Untuk diketahui, Selasa (24/08/2021) kemarin masyarakat dusun Rantel sudah berkumpul untuk menggelar aksi demo ke lokasi PETI di wilayah dusun Batu Kerbau. Hanya saja aksi tersebut batal terlaksana setelah dilakukan mediasi dengan pihak pemerintah kecamatan Pelepat dan Polsek Pelepat.

Mediasi dilakukan mengingat bakal banyaknya massa yang hadir, sehingga kegiatan demo seperti itu perlu dibuatkan surat pemberitahuan terlebih dahulu kepada Pemkab Bungo yang ditembuskan ke Polres Bungo, DPRD Bungo dan Kodim 0416 Bute. (**)