SUARA BUNGO – Masalah tempat jahit untuk seragam – seragam sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) 1 Muara Bungo nampaknya semakin menarik. Semua pihak yang diduga mencari keuntungan dalam pengadaan seragam sekolah ratusan siswa yang baru terjaring dalam PPDB tahun ajaran 2024, saat ini saling membantah, namun keluhan – keluhan dari para orang tua siswa tidak juga diindahkan oleh pihak sekolah.
Kepada wartawan, Ketua Komite SMA Negeri 1 Bungo, Abasri membantah keras keterlibatan dirinya dalam persoalan pemesanan tempat jahit pakaian seragam sekolah sebagaimana yang disebutkan salah satu orang tua siswa.
Dia juga dengan tegas mengatakan, bahwa tempat menjahit seragam sekolah sudah ditentukan yakni di Penjahit Uni War yang merupakan rekomendasi dari pihak dewan guru bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bungo.
“Kalau gak salah tempat jahitnya namanya ‘Uni War’. Saya tidak terlibat masalah nentukan tempat jahit itu, tanya saja kepada dewan guru atau kepala sekolah,” tambahnya.
Meskipun dirinya mengaku sudah mengetahui bahwa adanya petunjuk atau arahan dari pihak sekolah, namun dirinya berharap agar pihak sekolah tidak menekan atau memaksa orang tua siswa untuk menjahit seragam sekolah ditempat yang sudah ditentukan pihak sekolah.
“Seharusnya jangan dipaksakan dan biarkan orang tua siswa yang memilih dimana mereka mau dan cocok untuk menjahit seragam – seragam sekolah anak mereka,” ujar Abasri.
Disisi lain, para orang tua siswa dengan tegas mengatakan bahwa seharusnya pihak sekolah jangan mencari keuntungan dalam seragam – seragam sekolah yang akan dipakai oleh para siswa.
Para orang tua siswa mengaku kecewa dengan sikap pihak SMAN 1 Muara Bungo yang terkesan mengakomodir dan memaksa para orang tua untuk menjahit seragam anak mereka disatu tempat jahit yang mana harganya dinilai cukup mahal.
“Ekonomi orang tua siswa tidak sama semuanya. Seharusnya jangan ada paksaan dari pihak sekolah dan biarkan para orang tua siswa masing – masing yang menentukan dimana mereka mau menjahit seragam sekolah anak mereka,” ujar Y orang tua siswa.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bungo, Hendri saat dikonfirmasi wartawan juga membantah atas tudingan dari Ketua Komite dan anggota komite terkait adanya paksaan terhadap orang tua siswa untuk menjahit seragam sekolah disatu penjahit yang disebut telah disiapkan dirinya atau pihak sekolah.
“Waalaikumsalam, Lagi rapat pgri di Dinas Pendidikan. Mohon maaf bang Semua kegiatan kami serahkan sama orang tua siswa, kami tidak ikut dalam rapat orang tua. Pihak sekolah hanya memfasilitas tempat pertemuan. Mohon maaf, Kami pihak sekolah tidak terlibat tentang hal tersebut,” pungkasnya via pesan WhatsApp, Senin (22/7/2024).
Meskipun Kepala Sekolah SMA N 1 Bungo membantah tidak mengarahkan orang tua siswa untuk menjahit seragam sekolah di salah satu penjahit ternama di Kabupaten Bungo, namun hal tersebut bertolak belakang dengan keterangan yang disampaikan oleh penjahit ternama yang sempat dihubungi wartawan.
Menurut Uni War, dirinya selama beberapa tahun belakangan ini dirinya memang sudah sering menyiapkan seragam sekolah untuk siswa – siswa di SMA N 1 Bungo.
Ketika ditanya apakah tahun ajaran 2024 dirinya kembali diberi peluang untuk menyiapkan seragam – seragam sekolah ratusan siswa di SMAN 1 Bungo, dengan tegas dirinya menjawab benar dan rencananya hari Rabu akan mulai mengukur ukuran seragam para siswa.
“Alhamdulillah untuk seragam siswa – siswa di SMA N 1 Bungo kami yang menjahitya. Untuk tahun ini tidak semunya karena seragam muslim tidak dengan kami. Infonya kami hanya menjahit baju putih Abu-abu 1 stel, Pramuka 1 stel, almamater, dan baju batik,” tutur penjahit Uni War.
Untuk diketahui, masalah yang terjadi di sekolah terfavorit di Kabupaten Bungo saat ini yang diduga mencari keuntungan dengan mengakomodir salah satu penjahit dalam mempersiapkan seragam sekolah para siswa tidak hanya terjadi di SMAN 1 Muara Bungo saja, namun informasi yang berhasil dihimpun wartawan masalah seperti ini juga terjadi dibeberapa sekolah seperti SMP Negeri 1 Bungo, SMA Negeri 2 Bungo dan ada juga beberapa sekolah lain yang dibawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bungo.
Berdasarkan informasi dilapangan, harga seragam-seragam sekolah ditempat yang sudah ditentukan pihak sekolah terbilang mahal jika dibandingkan dengan tempat jahit lain. (Oni)









