SUARA BANGKO – Kondisi bangunan rumah sakit Abunjani Bamgko saat ini sangat memprihatinkan. Terutama ruang rawat inap, mulai dari fasilitas kelas II, kelas I, bahkan VIP yang menelan dana miliaran rupiah dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN dan APBD.
Pasalnya, kondisi ruangan sudah banyak yang rusak dan tidak layak ditempati. Mulai dari plafon yang sudah jebol, sampai lantai kamar mandi yang mengalami ambruk. Dengan keterbatasan ruangan pasien akibat kerusakan itu, pelayanan tetap dilakukan walau kondisi ruang rawat inap sudah tidak layak ditempati.
Dengan Keadaan bangunan yang banyak rusak tersebut, membuat pasien dan keluarga pasien merasa tidak nyaman. Seperti yang diungkapkan Jaspari, salah satu pasien yang sedang menjalani perawatan di salah satu kamar rawat.
Menurut Jaspari warga merangin kepada suarabutesarko.com melalui pesan masengger inbok face book ia merasa prihatin dengan kondisi beberapa fasilitas milik rumah sakit Abunjani yang di nakhodai okeh dr. Berman Saragih sangat tidak nyaman dengan kondisi ruangan yang ditempati oleh keluarganya.
Namun dia tidak punya pilihan lain, karena kamar yang lain sudah penuh, kalaupun ada yang kosong, kondisinya lebih parah dari kamar yang dia tempati saat ini.
“Kondisi ruangannya kurang nyaman, apalagi MCK yang bau dan ruangannya bocor,” ujarnya saat mengirim foto plafon ruangan rawat inap yang mendadak ambruk.
Dengan kondisi banyaknya fasilitas rumah sakit milik pemkab Merangin banyak yang tidak memadai dan sangat dikeluhkan oleh pasien. Sebagai keluarga pasien, Jaspari berharap untuk mendapatkan dirawat di ruangan yang semuanya dalam kondisi baik dan tidak seperti sekarang ini.
Tetapi karena tidak punya pilihan, dia tidak bisa protes. Bahkan menurutnya, dirinya juga mendengar curhatan keluarga pasien lain yang menutur kan bahwa ada keluarganya sempat dirawat dan harusnya mendapatkan pelayanan dengan fasilitas kelas I, tetapi karena penuh terpaksa dirawat di kelas II.
“Maunya mendapatkan pelayanan yang baik dan fasilitasnya sesuai dengan standar yang didapat, tapi kondisinya seperti ini mau gimana lagi,” kata Jaspari, dengan nada pasrah.
Jaspari menyatakan, fasilitas rawat inap di RS Abunjani memang tergolong kurang.
“Tahun lalu, ada cerita keluarga pasien sampai 3 kali pindah, pertama masuk dirawat di kelas III, bukan karena kamarnya penuh, tapi kamarnya ada tempat tidurnya yang tidak ada,” ungkap Jaspari.
Menurut penuturan Jaspari, setelah sehari di rawat barulah dia dipindahkan ke ruangan fasilitas kelas I.
“Sorenya dipindahkan ke kelas I, paginya baru pindah lagi ke ruang VIP,” jelasnya.
Dikatakan Jaspari sebagai pasien dan keluarga pasien tentulah berharap mendapatkan fasilitas sebagaimana seharusnya.
Untuk itu dia berharap agar kondisi gedung RS yang rusak bisa menjadi prioritas pemerintah untuk segera diperbaiki dan fasilitas kamar juga dilengkapi.
“Pasiennya terus bertambah, kalau tidak ada kamar kasian juga kan,” ujar Jaspari ketus.
Terkait hal ini, sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasi resmi dari pihak memagemen Direktur RS Abunjani Bangko.
dr. Berman Saragih, belum bisa di konfirmasi nomor telfon yang biasa dipakai bernada tidak aktif, sementara kabid umum dan pemeliharaan, Agus dihubungi via telfon selulernya 08127xxxxx6 tidak ada jawaban.(mjb)










