Membangun Citra Pemerintah Dari Konsep Teoritis

227

SUARA ARTIKEL – Citra adalah asset penting bagi organisasi yang harus dibangun dan dipelihara. Citra merupakan kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Selain menjadi daya tarik bagi konsumen citra yang baik akan mampu menciptakan kepuasan bagi konsumen, dengan demikian dapat dikatakan bahwa citra sangat berhubungan dengan public atau khalayak yang luas. Seperti yang dikatakan oleh Soemirat dan Ardiyanto (2005), kesan dan pengetahuan public mengenai organisasi akan membentuk citra organisasi tersebut.

Pandangan masyarakat dalam suatu organisasi dalam hal ini pemerintah bila dilihat dalam jangka panjang akan dapat menciptakan eksistensi pemerintah di mata publik. Pencitraan yang mampu tebentuk dengan baik akan memberikan dampak yang baik pula terhadap pencapaian tujuan dan kepercayaan masyarakat. Kepercayaan menjadi hal penting karena akan membangkitkan citra positif dan meningkatkan rofitabilitas dan pertumbuhan organisasi kea rah yang lebih baik.

Membangun citra yang positif bagi pemerintah bukanlah hal yang mudah, citra yang positif membutuhkan proses yang panjang. Arus informasi yang diterima oleh masyarakat melalui berita-berita di media social tidak mampu dibendung karena tuntutan teknologi saat ini. Kembali ke individu sendiri yang mampu melakukan filter atas setiap pemberitaan yang benar atau salah.

Menurut teori ada lima factor pembentuk citra organisasi, kelima factor itu adalah : 1) Identitas Fisik, yaitu identitas yang dilihat dari sisi visual seperti nama organisasi, logo, teks pilihan, warna, audio, dan media komunikasi yang digunakan. 2) Identitas Non Fisik, yaitu factor yang dilihat dari sejarah, filosofi, kepercayaan, nilai-nilai dan budaya. 3) Manajemen Organisasi, yaitu system manajemen yang dijalankan dalam mencapai tujuan seperti : visi, misi, system, kebijakan, aturan, alur prosedur, teknologi, sumber daya manusia, job design, system pelayanan dan sebagainya. 4) Kualitas hasil, yaitu output dari setiap pelaksanaan program seperti mutu produk/program dan pelayanan dan, 5) Aktivitas dan Pola Hubungan, dinilai dari hubungan organisasi dengan public, respon tanggung jawab, sosialisasi organisasi, kualitas komunikasi, pengalaman public dan jaringan komunikasi.

Kelima factor tersebut diatas akan membentuk kesan berdasarkan fakta dan informasi bagi seseorang, kemudian merangsang sikap yang kita miliki (Soemirat dan Ardianto, 2005). Sikap seseorang berkaitan dengan dengan kognitif yaitu keyakinan individu terhadap stimulus dan pada akhirnya proses pembentukan citra akan menghasilkan sikap, pendapat dan tanggapan atau prilaku tertentu.

Era Revolusi Industri 4.0 membawa manusia menuju era teknologi khususnya digitalisasi dan arus globalisasi yang tak mampu lagi dibendung. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber di media sosial. Penggunaan media social telah membentuk dan mendukung cara baru dalam melakukan komunikasi, berinteraksi, bahkan berkolaborasi. Pertukaran informasi tidak lagi terbatas dengan jarak, ruang dan waktu tetapi dengan cara yang lebih cepat melalui daring atau online.

Kehadiran media social telah membentuk dua mata panah yang saling bertentangan. Karena kehadiran media social telah menambah sarana penyebaran informasi, opini public, dinamika percakapan dan diskusi, bahkan telah mengubah prilaku dan gaya hidup masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang telah terjangkau infrastruktur komunikasi dan informatika. Dari satu sisi media social dapat digunakan oleh pemerintah sebagai salah satu cara dalam mempromosikan serta menyebarluaskan program dan kebijakan pemerintah serta berinteraksi dan menyerap aspirasi masyarakat sehingga saling pengertian untuk kepentingan bersama antara pemerintah dan mayarakat, dengan demikian kesan yang timbul berdampak positif bagi penguatan Citra Pemerintah.

Disisi yang lain, media social dapat berdampak negative terhadap kesan yang mampu ditimbulkan dari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai berita negative bias masuk tanpa dapat dikendalikan dan memberikan informasi yang salah bagi masyarakat. Persepsi yang keliru sebagai dampak dari penerimaan terhadap informasi akan membangun citra negative bagi pemerintah.

Proses pembentukan citra yang berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respon apakah mampu diterima atau ditolak. Seperti yang disampaikan oleh Walter Lipman dalam teori Picture Our Head bahwa pembentukan citra dipengaruhi oleh persepsi, kognisi, motivasi dan sikap. Untuk itu pemerintah perlu melakukan perbaikan komunikasi dengan pemanfaatan teknologi sehingga informasi yang diterima masyarakat dapat dikelola dengan baik sehingga pemerintah akan tetap positif bagi masyarakat.

Penulis : -Nanik Istianingsih
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo.

-Erwin Hotmansyah
ASN Pemkot Padang Sidimpuan

Silahkan Komentar nya Tentang Berita Ini