oleh

Tahun Baru Islam Momentum Instropeksi Diri di Masa Pandemi

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan, hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (Q.S. Ali Imran:185).

Tiba-tiba kematian terasa semakin akrab di masa Pandemi Covid-19 yang sudah hampir berjalan dua tahun. Lahan pekuburan khusus jenazah pasien Covid-19 terus meluas menjadi monumen kepedihan sepanjang masa. Hidup di tengah agresif virus serta gempuran informasi yang bercampur aduk antara fakta dan hoaks tentang pandemi ini sungguh mengguncangkan kemanusiaan kita. Timbul perasaan cemas, takut, skeptis, pesimis, marah, dan bahkan frustasi yang menyerang mental sehingga melahirkan depresi. Padahal, tanpa kesehatan mental yang kuat, maka kesehatan fisik bisa terganggu. Kesehatan fisik yang lemah bisa berakibat lemahnya daya tahan tubuh melawan serangan virus. Bila dibiarkan maka penularan virus akan semakin meluas.

Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan erat antara psikis dan fisik pada diri manusia. Di dalam Islam, terapi kesehatan mempunyai dua aspek, yaitu fisik dan psikis. Gangguan yang terjadi pada raga manusia secara sunatullah diterapi dengan perihal yang bersifat raga, misalnya obat-obatan yang sesuai dan tidak menyalahi hukum syara, sedangkan gejala gangguan yang timbul dalam jiwa diterapi dengan penyembuhan ma’nawi, yaitu terapi yang jadi nutrisi bagi ruh serta kalbu manusia yang sakit.

Bangkitnya keinsafan umat Islam untuk merawat kesehatan ruh dan kalbu masing-masing menjadi sangat penting di tengah ancaman pandemi yang tak kunjung usai. Momen Tahun Baru Islam 1443 Hijriah bisa menjadi titik awal kebangkitan tersebut, karena salah satu makna krusial Tahun Baru Hijriah adalah introspeksi dan muhasabah diri yang merupakan bagian dari penyembuhan ma’nawi. Keberadaan pandemi Covid-19 seharusnya semakin menebalkan keimanan diri sebagai mahkluk ciptaan Allah swt yang tak punya daya upaya selain bergantung pada kuasa-Nya.

Langkah awal untuk memulai kesadaraan tetap waras di masa pandemi adalah dengan memperbanyak istighfar. Rasulullah SAW bersabda;

“Siapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah akan melapangkan setiap kesusahan, memberi jalan keluar setiap kesukaran, dan memberi rezeki tanpa diduga-duga,” (HR Abu Dawud dan Nasa’i).

Tragedi pandemi Covid-19 saat ini hendaknya membuat setiap hamba melakukan introspeksi dan muhasabah karena bisa jadi di akibatkan dosa-dosa umat manusia yang melupakan istighfar. Hamba yang beristighfar sadar bahwa maksud Allah swt menimpakan musibah kepada seseorang atau suatu kaum adalah agar mereka kembali ke jalan yang lurus dan benar. Dengan istighfar kita juga berharap bisa menjemput ridho Allah swt agar berkenan memberikan jalan keluar terbaik dari pandemi ini.

Langkah kedua adalah dengan memperbaiki shalat. Shalat yang membekas di dalam jiwa seseorang adalah shalat yang khusyu yang bisa didapatkan melalui ilmu dan latihan yang benar. Rasulullah saw senantiasa menjadikan shalat sebagai penawar rasa gundah ketika menghadapi permasalahan. Saat ini, hampir seluruh masyarakat dunia merasa gelisah dan stres akibat dampak pandemi. Semua butuh ketenangan dan kedamaian untuk itulah shalat bisa menjadi sarana relaksasi. Allah swt juga mengajarkan hamba-nya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana meminta pertolongan-Nya.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (QS. Al Baqorah:45).

Langkah ketiga adalah dengan memperbanyak zikir dan membaca Al Quran. Zikir adalah salah satu cara hamba berkomunikasi dengan Tuhan. Zikir dapat membersihkan diri dari kesenangan duniawi yang tak pernah cukup dan mensucikan ruh dari hal-hal negatif. Keutamaan zikir dapat merileksasi pikiran agar terhindar dari tekanan internal dan eksternal penyebab stres berat. Demikian halnya membaca Al Quran. Kegiatan membaca Al Quran ternyata mampu menimbulkan rasa berserah diri kepada Allah swt yang membawa kondisi positif bagi tubuh. Dengan memperbanyak khatam Al Quran, kita bisa mengurangi membaca kabar tentang teror Covid-19 sehingga terhindar dari kecemasan berlebihan dan gangguan stres akut. Memperbanyak zikir dan membaca Al Quran juga membuat kita senantiasa berada dalam lindungan Allah swt dari segala marabahaya.

Selanjutnya, adalah dengan puasa. Puasa yang dilakukan dengan penuh penghayatan akan menyebarkan getaran kebaikan, kejujuran, kedamaian, dan kenyamanan kepada siapa saja yang berada di sekitarnya. Ibadah puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia secara fisik, psikologis, dan sosial. Puasa yang dilakukan Senin dan Kamis sangat membantu seseorang sembuh dan terhindar dari stres di masa pandemi saat ini.

Dan, langkah akhir yang bisa kita lakukan supaya tetap kuat di masa pandemi adalah dengan doa. Berdoa artinya memanjatkan permohonan kepada Allah swt supaya mendapatkan suatu kehendak yang diridhoi. Ketentraman yang ditimbulkan oleh doa bisa menjadi pertolongan yang besar pada pengobatan.

Rasulullah bersabda, “Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang agama serta cahaya langit dan bumi,” (HR Abu Ya’la).

Firman Allah swt juga semakin menguatkan fungsi doa, “Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Muhammad SAW) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS Al Baqarah: 186).

Semua langkah-langkah di atas perlu dilaksanakan secara sistematis dimulai dari setiap individu, keluarga, lingkungan, hingga masyarakat luas. Setiap peribadahan dalam rangka taqarub ilallah, mendekatkan diri pada Allah SWT pasti akan melahirkan ketenangan, kedamaian, kebahagian dan hubungan harmonis antar sesama manusia. Iman yang tangguh akan sanggup melawan keganasan virus Covid-19 atas izin Allah swt di mana pun dan sampai kapan pun. Wallahu’alam bish showab.

Penulis : Ade Sofa, S.Ag., M.S.I
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo

 

Komentar

Berita Terbaru