NILAI DAN SOLIDARITAS SOSIAL DALAM RESEPSI PERNIKAHAN

555
Dr.Hamirul, Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo

SUARA ARTIKEL – Dalam memnuhi kebutuhan hidupnya manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup sendiri, karena pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sebagai mahluk soial manusia membutuhkan bantuan orang lain dengan melakukan interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu didalam kehidupan masyrakat diperlukan adanya kerjasama dan sikap bahu membahu yang di ikat dengan dasar loyalitas dan pengalaman yang ada.

Masyarakat Indonesia terkenal dengan sikap ramah, kekeluargaan dan sifat loyal bahu membahu didalam kehidupan sehari-hari, dalam sikap bahu membahu dimasyarakat Indonesia dikenal dengan Istilah ”Gotong Royong”. Kegiatan gotong royong merupakan warisan nenek moyang kita yang perlu dilestarikan. Karena Gotong royong sangat membantu untuk menciptakan suasana masyarakat yang selaras dan nyaman dalam menjalankan kehidupan masyarakatnya bahkan tidak dipungkiri dapat juga berpengaruh dalam kehidupan pribadinya. Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki hampir seluruh kawasan Indonesia adalah Gotong royong.

Prinsip Gotong royong merupakan salah satu ciri khas atau karakteristik dari bangsa Indonesia. Hal ini dapat dinyatakan dengan adanya aktivitas masyarakat yang senantiasa mengedepankan prinsip gotong royong hal ini tercantum dalam pancasila sila ke-3 “ Persatuan Indonesia”. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perilaku gotong royong yang dimiliki bangsa Indonesia sebenarnya sudah sejak dahulu kal. Hal tersebut didapatkan dari berbagai referensi yang terkait dengan kehidupan generasi pendahulu yang senantiasa mengedepankan perilaku gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam setiap gotong royong yang dilakukan terutama dalan sebuah resepsi pernikahan biasanya terjadi pembagian kerja walaupun tidak secara resmi dalam bentuk kepanitian, namun semua organ yang dalam sebuah kelompok menjalankan semua fungsinya yakni menyelsaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kelompok dan seolah-olah telah terbentuk pembagian kerja didalam masyarakat atau kelompok dalam resepsi tersebut.

Pembagian kerja adalah pemisahan jenis pekerjaan yang dilakukan individu atau sekelompok individu tertentu. Jenis pekerjaan yang beragam dalam suatu masyarakat tidak mungkin dikuasai dan dilakukan oleh setiap orang. Oleh sebab itu, dibutuhkan spesialisasi. Sehingga seseorang hanya mengerjakan satu atau beberapa jenis pekerjaan saja. Dasar bagi pembagian kerja yang palin mudah dilihat dan bersifat universal dalam masyarakat adalah berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Pada masyarakat berburu misalnya laki-laki melakukan perburuan, sedangkan perempuan mengumpulkan tumbuh-tumbuhan dan binatang kecil atau dalam masyarakat peladang, membuka hutan dan membakarnya adalah pekerjaan kaum pria, sedangkan menanam bibit dan menuai pekerjaan kaum wanita. Demikian pula pada masyarakat petani, laki-laki membajak sawah dan perempuan menyemai serta memanen hasilnya. Pada masyarakat peternak, kaum wanita memerah susu dan menyamak kulit, sedangkan kaum pria mengembalakan dan menjaga ternak. Namun pembagian kerja yang terjadi diatas adalah berdasarkan rasa solidaritas.

Solidaritas diartikan dengan suatu hubungan yang mengikat dari dalam diri tiap individu dalam masyarakat yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama. sedangkan menurut Durkheim dalam ukunya, bahwa masyrakat modern tidak terikat atas dasar kesamaan antara orang-orang yang pekerjaannya sama, tetapi lebih karena pembagian kerja yang membuat masyarakat modern ini saling ketergantunga.Menurut beliau juga bahwa Solidaritas dibagi kedalam dua bentuk, yakni:

Solidaritas Mekanik adalah masyarakat atau kelompok sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang bersifat menekan. Ikatan dalam solidaritas mekanik terjadi karena kesamaan aktivitas dan merasa memiliki tanggung jawab yang sama, sehingga ikatannya sangat erat. Solidaritas mekanik dibentuk oleh hukum represif. Hukum represif sendiri adalah hukum yang sifatnya mendatangkan penderitaan pada pelanggar. Sanksinya sendiri bisa berupa perampasan kemerdekaan pada hidupnya. Hal ini disebabkan karena dalam solidaritas mekanik, pelanggaran dianggap sebagai pencemaran pada kepercayaan bersama.

Dalam masyarakat solidaritas mekanik, Individualitas tidak berkembang karena yang diutamakan adalah kepentingan bersama. Ciri yang khas dari solidaritas mekanik ini adalah masyrakatnya homogen dalam kepercayaan, sentiment, dan kebersamaan yang snagat tinggi. Mungkin bisa dicontohkan pada masyarakat pedesaan yang masih sederhana dimana memiliki kebersmaan yang sangat erat, kemudian hukumnya yang represif dapat dilihat ketika seseorang melakukan kesalahan hukumannya dapat berupa pengasingan. Selain itu dalam masyarakat desa tidak saling ketergantungan dan rata-rata mereka bisa melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri.

Solidaritas Organik adalah masyarakat yang didasarkan pada ketergantungan antar invidu dan adanya spesialisasi pekerjaan. Dalam solidaritas organik motivasinya biasanya karena ada factor ekonomi seperti misalkan karena ia memiliki peran dalam sebuah kelompok atau masyarakat ia menginginkan gaji atau setidaknya balas jasa. Jadi dalam kegiatannya selalu berhubungan dengan factor ekonomi dalam solidaritas organic ini. Solidaritas organic juga dibentuk oleh hukum restitutif. Hukum restitutif ini tujuannya adalah hanya untuk memulihkan keadaan seperti semula, sebelum terjadinya kegoncangan akibat dari adanya kaidah yang dilanggar. Kaidah-kaidah tersebut menyangkut hukum perdata, hukum dagang, hukum administrasi, hukum Negara.

Masyarakat solidaritas organik ini dapat dilihat pada masyarakat perkotaan yang lebih modern dan kompleks. Yaitu masyarakat yang ditandai dengan adanya pembagian kerja yang kompleks.
Tak kerkecuali pada proses resepsi pernikahan adanya sekelompok orang yang mempunyai rasa solidaritas Mekanik dimana Sebelum terjadinya sebuah pernikahan biasanya melalui beberapa tahapan yang terjadi dalam sebuah adat pernikahan diantaranya:

(Lamaran)

Lamaran di Jambi, disebut sebagai anter tando. Sebelum diadakan acara lamaran, biasanya akan ada utusan dari pihak laki laki, yang akan bertanya, ataupun bersilahturahmi ke keluarga wanita. Utusan ini akan mencari tahu, apakah wanita yang dimaksud sudah ada yg melamar. Setelah itu, baru akan dilakukan prosesi lamaran.Lamaran ini biasanya dihadiri tuo tengganai dari kedua belah pihak keluarga. Pada saat lamaran, keluarga laki-laki akan membawa syarat adat, diantaranya:
*Cincin pengikat. Cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena, tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti.
*Pakaian sepelulusan. Berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet.
*Sirih Pinang. Berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih, tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus.

Prosesi lamaran biasanya berupa seloko seloko (seperti berbalas pantun) antar wakil keluarga terlebih dahulu, yang kira-kira isinya adalah menanyakan maksud dan tujuan keluarga laki laki bertamu ke keluarga wanita. Setelah itu, prosesi lamaran itu sendiri, berupa pemasangan cincin ke calon pengantin wanitanya. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah selesai makan, maka dilakukan perundingan keluarga inti, dimana membicarakan tentang kelanjutan lamaran tadi, berupa, pembicaraan tanggal, adat dll

Pembicaraan yang dilakukan antara lain:
*Tanggal pernikahan. Apakah upacara pernikahan akan dilaksanakan sepanen jagung (3 bulan) sepanen padi (6 bulan) atau yang lain
*Adat yang digunakan. Apakah menggunakan pure adat jambi, atau ada campurannya.
*Seserahan. Apa saja hantaran yang akan diberikan keluarga laki laki.
*Uang adat. Uang adat disini ada 2, yaitu uang adat, dan uang selemak semanis dan Uang adat biasanya hanya berjumlah sedikit, yaitu berkisar 50-100 ribu, tetapi uang selemak semanis jumlahnya cukup besar, disesuaikan dengan kemampuan keluarga laki-laki. Uang selemak semanis ini, merupakan urunan atau membantu belanja untuk acara resepsi pernikahan nanti.

(Hantaran)

Adat jambi, memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan hantaran. Dan ada beberapa barang yang harus dibawa ketika prosesi hantaran tersebut, beberapa benda tersebut antara lain adalah:
*Isi kamar, berupa tempat tidur, lemari, meja rias, kasur, bed cover, sampai gorden untuk kamar penganten
*Peralatan make-up
*Bahan pakaian/kebaya atasan dan bawahan (2 pasang)
*Sepatu/ selop (2 pasang)
*Tas (2 pcs)
*Baju tidur (2 pasang)
*Underwear (2 set)
*Kain panjang (2 lembar) gunanya adalah untuk dijadikan kain basahan ketika mandi di sungai.
*Peralatan Mandi berupa sabun, sampo dll, di beberapa daerah ada yang membawa gayung dan ember yang hias dengan pita.
*Perlengkapan Ibadah
*Bumbu dapur berupa cabe, merica, bawang, tomat, garem, beras, telur, dll, bahkan ada yang membawa kerbau yang di hias dengan pita dan dimasukan ke dalam tempat dimana acara diselenggarakan. Ini merupakan perlambang keluarga laki laki, turut serta membantu “logistik” acara resepsi.
*Yang Selemak Semanis Pernikahan ketika di Jambi terdapat acara pernikahan, biasanya ketika resepsi pernikahan akan diselenggarakan, kedua belah pihak baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki saling berkumpul, untuk saling berbalas pantun hal ini di maksudkan untuk dapat mewujudkan suasana keakraban antara kedua belah pihak. Kemudian, ada juga prosesi makan sirih saat bertemu dan saat resepsi pernikahan, ketika mempelai pria datang ke tempat acara resepsi terdapat prosesi pelemparan uang receh dijalan sang mempelai pria, kemudian mempelai pria mengenakan pakaian adat di daerah itu. Di saat resepsi juga ada lagi acara berbalas pantun. Kemudian, ketika makanan sudah dihidangkan ke tempat dimana kedua mempelai duduk, mempelai wanita menyuapi mempelai pria, dan juga kedua orang tua mempelai.

Namun dalam sebuah resepsi pernikahan yang akan terjadi di sebuah rumah tangga banyak sekali komponen yang terlibat didalam mensukseskan resepsi tersebut diantaranya dimulai dari dapur atau lebih tepat bagian konsumsinya. Sebuah resepsi baik besar maupun kecil akan dibilang sukses atau lancar bila bagian konsumsi berjalan dengan baik.

Beberapa daerah diprovinsi jambi terutama di kabupaten Bungo masih banyaknya masyarakat terutama ibu-ibu yang biasanya mengambil bagian di dapur yang tentunya sangat krusial dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Ibu-ibu biasanya berkumpul dimalam hari kemudian mulai sibuk mengerjakan bahan-bahan yang akan di masak mulai dari memotong nangka dan seterusnya dan dalam pekerjaan ini tidak adanya pembagian kerja yang jelas dan masing-masing bekerja sesuai dengan posisi yang kosong dan hal ini sama sekali tidak ada instruksi dari atasan ataupun seorang pemimpin, namun dalam kegiatan ini semuanya bertanggung jawab atas selesainya bagian konsumsi ini dan semua komponen ibu-ibu siap mengambil bagian dari semua proses pembuatan konsumsi dengan rasa saling percaya dan bertanggung jawab pada setiap bagian dan setiap komponen ibu-ibu bisa mengambil bagian pekerjaan yang lain bila dirasa diperlukan dan kekurangan tenaga dalam hal menyelesaikan masing-masing pekerjaan dalam hal konsumsi ini.

Beberapa dusun ibu-ibu dibagian dapur biasanya sangat antusias dalam rangka membantu hajat tuan rumah yang akan menikahkan baik anak, keponakan maupun sanak saudara dan biasanya peran ibu-ibu sangat penting dalam rangka suskesnya sebuah acara pernikahan.

Ada banyak hal unik yang terjadi dalam sebuah resepsi pernikahan yang terjadi dibelakang layar dan biasanya kaum ibu-ibu dibelakang layar ini mengambil bagian atau perannya masing-masing dalam pembagian kerja tanpa harus ada kepanitian dan terkadang peran yang diambil bisa saja digantikan dengan orang lain demi tercapainya tujuan yakni suksesnya masakan yang akan dibuat.

Penulis : Dr. Hamirul
Dosen STIA Setih Setio Muara Bungo

Silahkan Komentar nya Tentang Berita Ini